RSS

penyakit ispa


Tugas Individu DASAR DASAR EPIDEMOLOGI
Penyakit ISPA
FAKULTAS ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS MUHAMMADYA PAREPARE
TAHUN 2013

KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat danhidayah-Nya makalah ini dapat terselesaikan dengan baik.Makalah ini merupakan salah satu tugas yang diberikan oleh dosen dasar-dasar epidemiologi sebagai syarat untuk memenuhi sebagian nilai tugas.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan sehingga penulis mengharapkan partisipasi dari pembaca untuk memberikan saran dan kritik yang membangun demi memperbaiki kekurangan makalah ini..Terakhir kalinya penulis berharap semoga makalah yang disusun ini dapat bermanfaat bagi pembaca




BAB I
PENDAHULUAN
A.    LatarBelakang
           
Dalam GBHN, dinyatakan bahwa pola dasar pembangunan Nasional pada hakekatnya adalah Pembangunan Manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia. Jadi jelas bahwa hubungan antara usaha peningkatan kesehatan masyarakat dengan pembangunan, karena tanpa modal kesehatan niscaya akan gagal pula pembangunan kita.
Usaha peningkatan kesehatan masyarakat pada kenyataannya tidaklah mudah seperti membalikkan telapak tangan saja, karena masalah ini sangatlah kompleks, dimana penyakit yang terbanyak diderita oleh masyarakat terutama pada yang paling rawan yaitu ibu dan anak, ibu hamil dan ibu meneteki serta anak bawah lima tahun (1).
Salah satu penyakit yang diderita oleh masyarakat terutama adalah ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) yaitu meliputi infeksi akut saluran pernapasan bagian atas dan infeksi akut saluran pernapasan bagian bawah. ISPA adalah suatu penyakit yang terbanyak diderita oleh anak- anak, baik dinegara berkembang maupun dinegara maju dan sudah mampu. dan banyak dari mereka perlu masuk rumah sakit karena penyakitnya cukup gawat. Penyakit-penyakit saluran pernapasan pada masa bayi dan anak-anak dapat pula memberi kecacatan sampai pada,masa dewasa. dimana ditemukan adanya hubungan dengan terjadinya Chronic Obstructive
Pulmonary Disease  
ISPA masih merupakan masalah kesehatan yang penting karena menyebabkan kematian bayi dan balita yang cukup tinggi yaitu kira-kira 1 dari 4 kematian yang terjadi. Setiap anak diperkirakan mengalami 3-6 episode ISPA setiap tahunnya. 40 % -60 % dari kunjungan diPuskesmas adalah oleh penyakit ISPA. Dari seluruh kematian yang disebabkan oleh ISPA mencakup 20 % -30 %. Kematian yang terbesar umumnya adalah karena pneumonia dan pada bayi berumur kurang dari 2 bulan.
Hingga saat ini angka mortalitas ISPA yang berat masih sangat tinggi. Kematian seringkali disebabkan karena penderita datang untuk berobat dalam keadaan berat dan sering disertai penyulit-penyulit dan kurang gizi (3). Data morbiditas penyakit pneumonia di Indonesia per tahun berkisar antara 10 -20 % dari populasi balita. Hal ini didukung oleh data penelitian dilapangan (Kecamatan Kediri, NTB adalah 17,8 % ; Kabupaten Indramayu adalah 9,8 %). Bila kita mengambil angka morbiditas 10 % pertahun, ini berarti setiap tahun jumlah penderita pneumonia di Indonesia berkisar 2,3 juta .Penderita yang dilaporkan baik dari rumah sakit maupun dari Puskesmas pada tahun 1991 hanya berjumlah 98.271. Diperkirakan bahwa separuh dari penderita pneumonia didapat pada kelompok umur 0-6 bulan
Program pemberantasan ISPA secara khusus telah dimulai sejak tahun 1984, dengan tujuan berupaya untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian khususnya pada bayi dan anak balita yang disebabkan oleh ISPA , namun
© 2004 Digitized by USU digital library, kelihatannya angka kesakitan dan kematian tersebut masih tetap tinggi seperti yang telah dilaporkan berdasarkan penelitian yang telah disebutkan di atas


B. RUMUSAN MASALAH
A.    Perkembangan penyakit ?
1.    Penyebab penyakit
2.    Model
3.    Faktor agent dari penyakit ispa ,social,biologis,kimiawi
B.    Riwayat alamiah
1.    Tahap prepotogenesis
2.    Tahap potogenesis
3.    Tahap pasca pathogenesis
C.   Upaya pencegahan penyakit
1.    Primodial prevention (tingkat awal )
2.    Primery prevention ( Pertama )
3.    Secondary prevention (Ke dua )
4.    Tertoria prevention( ke tiga )
D.   Tramsisi epidemologi penyakit
E.    Etika epidemologi dari penyakit ispa
F.    Sagitiga epidemologi
G.   Aplikasi epidemologi terhadap penyakit ispa







BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian penyakit ispa
.infeksi saluran napas akut dalam bahasa Indonesia juga di kenal sebagai ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) atau URI dalam bahasa Inggris adalah penyakit infeksi akut yang melibatkan organ saluran pernapasan, hidung, sinus, faring, atau laring.
ispa adalah infeksi yang berlangsung sampai 14 hari. Yang dimaksud dengan saluran pernapasanadalah organ mulai dari hidung sampai gelembung paru, beserta organ-organ di sekitarnya seperti : sinis, ruang telinag tengah dan selaput paru (Setiowulan, 2001).
Sebagian besar dari infeksi saluran pernapasan hanya bersifat ringan seperti batuk pilek dan tidak memerlukan pengobatan dengan anti biotic. Etiologi dari sebagian besar penyakit jalan napas bagian atas ini ialah virus dan tidak dibutuhkan terapi antibiotik.
Faringitis oleh kuman Streptococcus jarang ditemukan pada balita. Bila ditemukan harus diobati dengan antibiotik penisilin, semua radang telinga akut harus mendapat anti bioyik (depkes RI , 2007) 
Infeksi saluran pernafasan bagian atas terutama yang disebabkan oleh virus, sering terjadi pada semuagolongan masyarakat pada bulan-bulan musim dingin (Pusdiknakes, 1990). Resiko terutama terjadi pada anak-anak karena meningkatnya kemungkinan infeksi silang,beban immunologisnya terlalu besar karena dipakai untuk penyakit parasitdan cacing, serta tidak tersedianya atau berlebihannya pemakaian antibiotik.(Setiowulan, 2001).

1.    Etiologi
Etiologi ISPA lebih dari 300 jenis bakteri, virus, dan jamur. Mayoritas penyebab ISPA adalah virus dengan frekuensi lebih dari 90% untuk ISPA bagian atas, sedangkan ISPA untuk bagian bawah frekuensinya lebih kecil (WHO, 1995). Dalam Harrison’s Principle of Internal Medicine di sebutkan bahwa penyakit infeksi saluran nafas akut bagian atas mulai dari hidung, nasofaring, sinus paranasalis sampai dengan laring hampir 90% disebabkan oleh viral, sedangkan infeksi akut saluran nafas bagian bawah hampir 50 % diakibatkan oleh bakteri streptococcus pneumonia adalah yang bertanggung jawab untuk kurang lebih 70-90%, sedangkan stafilococcus aureus dan H influenza sekitar 10-20%. Saat ini telah diketahui bahwa infeksi saluran pernapasan akut ini melibatkan lebih dari 300 tipe antigen dari bakteri maupun virus tersebut (WHO, 1995)
Beberapa faktor lain yang diperkirakan berkontribusi terhadap kejadian ISPA pada anak adalah rendahnya asupan antioksidan, status gizi kurang, dan buruknya sanitasi lingkungan.
Perjalanan alamiah penyakit ISPA dibagi 4 tahap yaitu :
1. Tahap prepatogenesis : penyuebab telah ada tetapi belum menunjukkan reaksi apa-apa.
2. Tahap inkubasi : virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa. Tubuh menjadi lemah apalagi bila keadaan gizi dan daya tahan sebelumnya rendah.
3. Tahap dini penyakit : dimulai dari munculnya gejala penyakit,timbul gejala demam dan batuk.
4. Tahap lanjut penyaklit,dibagi menjadi empat yaitu dapat sembuh sempurna,sembuh dengan atelektasis,menjadi kronos dan meninggal akibat pneumonia.

2.    Gejala klinis
·         Gejala ISPA ringan
seorang dinyatakan menderita ISPA ringan jika di temukan gejala sebagai berikut :
a)    Batuk.
b)    Serak, yaitu bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara(misalnya pada waktu berbicara atau menangis).
c)    Pilek yaitu mengeluarkan lendir atau ingus dari hidung.
d)    Panas atau demam, suhu badan lebih dari 370C. 

Jika menderita ISPA ringan maka perawatan cukup dilakukan di rumah tidakperlu dibawa ke dokter atau Puskesmas. Di rumah dapat diberi obat penurunpanas yang dijual bebas di toko-toko atau Apotik tetapi jika dalam dua hari gejala belum hilang, harus segera di bawa ke dokter atau puskesmas terdeka.

·         Gejala ISPA sedang
Seorang dinyatakan menderita ISPA sedang jika di jumpai gejala ISPA ringan dengan disertai gejala sebagai berikut :
a)    Pernafasan lebih dari 50x/m pada anak umur kurang dari satu tahun atau lebih dari 40 kali/menit pada anak satu tahun atau lebih
b)    suhu lebih dari 390’C.
c)    tenggorokan berwarna merah
d)    Timbul bercak-bercak pada kulit menyerupai bercak campak
e)    Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang telinga
f)     pernafasan berbunyi seperti mendengkur
g)    Pernafasan berbunyi seperti mencuit-cuit.

·         Gejala ISPA berat
Seorang dinyatakan menderita ISPA berat jika ada gejala ISPA ringanatau sedang disertai satu atau lebih gejala sebagai berikut :
a)    bibir atau kulit membiru, lubang hidung kembang kempis pada waktu bernafas.
b)    tidak sadar atau kesadaran menurun.
c)    Pernafasan berbunyi mengorok dan tampak gelisah.
d)    Pernafasan menciut, sela iga tertarik ke dalam pada waktu bernafas.
e)    Nadi cepat lebih dari 60x/menit atau tidak teraba
f)     Tenggorokan berwarna merah
ISPA berat harus dirawat di rumah sakit atau puskesmas karenaperlu mendapat perawatan dengan peralatan khusus seperti oksigen dan infus

  Model
1)    Kausal mutlak : Etiologi ISPA lebih dari 300 jenis bakteri, virus, dan jamur. Mayoritas penyebab ISPA adalah virus dengan frekuensi lebih dari 90% untuk ISPA bagian atas, sedangkan ISPA untuk bagian bawah frekuensinya lebih kecil (WHO, 1995). Dalam Harrison’s Principle of Internal Medicine di sebutkan bahwa penyakit infeksi saluran nafas akut bagian atas mulai dari hidung, nasofaring, sinus paranasalis sampai dengan laring hampir 90% disebabkan oleh viral, sedangkan infeksi akut saluran nafas bagian bawah hamper 50 % diakibatkan oleh bakteri streptococcus pneumonia adalah yang bertanggung jawab untuk kurang lebih 70-90%, sedangkan stafilococcus aureus dan H influenza sekitar 10-20%. Saat ini telah diketahui bahwa infeksi saluran pernapasan akut ini melibatkan lebih dari 300 tipe antigen dari bakteri maupun virus tersebut (WHO, 1995)
2)    Kausal esensial : 40 % -60 % dari kunjungan pasien di Puskesmas adalah disebabkan oleh penyakit ISPA. adalah suatu penyakit yang terbanyak diderita oleh anak- anak, baik dinegara berkembang maupun dinegara maju dan sudah mampu dan banyak dari mereka perlu masuk rumah sakit karena penyakitnya cukup gawat. Kemungkinan yang terajdi adalah dikarenakan infeksi saluran respiratorik, yang dapat berakibat buruk bagi kesehatan respiratorik mereka, tidak hanya pada masa tumbuh kembang namun juga dapat berpengaruh hingga dewasa, karena penyakit-penyakit saluran pernapasan pada bayi dan anak-anak mempunyai kemungkinan menyebabkan kecacatan pada masa dewasa.
3)    Kausal suffisien : ISPA dapat ditularkan melalui air ludah, darah, bersin, udara pernapasan yang mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat kesaluran pernapasannya. Kelainan pada sistem pernapasan terutama infeksi saluran pernapasan bagian atas dan bawah, asma dan ibro kistik, menempati bagian yang cukup besar pada lapangan pediatri. Infeksi saluran pernapasan bagian atas terutama yang disebabkan oleh virus, sering terjadi pada semua golongan masyarakat pada bulan-bulan musim dingin.
Tetapi ISPA yang berlanjut menjadi pneumonia sering terjadi pada anak kecil terutama apabila terdapat gizi kurang dan dikombinasi dengan keadaan lingkungan yang tidak hygiene. Risiko terutama terjadi pada anak-anak karena meningkatnya kemungkinan infeksi silang, beban immunologisnya terlalu besar karena dipakai untuk penyakit parasit dan cacing, serta tidak tersedianya atau berlebihannya pemakaian antibiotik.

Ø  Faktor Agent dari penyakit ispa terbagi 3 yaitu faktor biologis,sosial dan kimiawi
a.    Faktor biologis : perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme (makhluk hidup) yang bersangkutan,bakteri,virus
b.    Faktor sosial   : kurangnya perhatian masyarakat terhadap lingkungan dan kesehatan anaknya
c.    Faktor kimiawi : cuaca, debu, radiasi, dll.
B.    Riwayat alamiah penyakit ispa
Perjalanan alamiah penyakit ISPA dibagi 3 tahap yaitu :
1. Tahap prepatogenesis : penyebab telah ada tetapi belum menunjukkan reaksi apa-apa
2. Tahap inkubasi : virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa. Tubuh menjadi lemah apalagi bila keadaan gizi dan daya tahan sebelumnya rendah.
3. Tahap dini penyakit : dimulai dari munculnya gejala penyakit,timbul gejala demam dan batuk.
4. Tahap lanjut penyaklit,dibagi menjadi empat yaitu dapat sembuh sempurna,sembuh dengan atelektasis,menjadi kronos dan meninggal akibat pneumonia

C.   Upaya pencegahan
1.    Primordial prevention ( pencegahan awal / tingakt dasar )
Terdiri dari:
1.     Health promotion (promosi kesehatan)
2.     Specific protection (perlindungan khusus)
kegiatan yang dilakukan melalui upaya tersebut adalah :
A.       Health promotion (promosi kesehatan)
*      Pendidikan kesehatan, penyuluhan
*      Gizi yang cukup sesuai dengan perkembangan
*      Penyediaan perumahan yg sehat
*      Rekreasi yg cukup
*      Pekerjaan yg sesuai
*      Konseling perkawinan
*      Genetika
*      Pemeriksaan kesehatan berkala
B.       Specific protection (perlindungan khusus )
*      Imunisasi
*      Kebersihan perorangan
*      Sanitasi lingkungan
*      Perlindungan thdp kecelakaan akibat kerja
*      Penggunaan gizi tertentu
*      Perlindungan terhadap zat yang dapat menimbulkan kanker

2.    Primary prevention ( pencegahan tingkat pertama )
Ditujukan kepada orang sehat dengan usaha peningkatan derajat kesehatan (health promotion) dan pencegahan khusus (specific prevention),diantaranya:
a.Penyuluhan
Penyuluhan dilakukan oleh tenaga ksehatan dimana kegiatan in diharapkan dapat mengubah sikap dan perilaku masyarakat terhadap hal-hal yang dapat meningkatkan faktor resiko terjadinya ISPA.kegiatan penyuluhan ini dapat berupa penyuluhan penyakit ISPA,penyuuhan ASI eksklusif,penyuluhan gizi seimbang paa ibu dan anak,penyuluhan kesehatan lingkungan,penyuluhan bahaya rokok.
b.Imunisasi
Mengusahakan kekebalan anak dengan imunisasi agar anak memperoleh kekebalan dalam tubuhnya anak perlu mendapatkan imunisasi yaitu DPT. Imunisasi DPT salah satunya dimaksudkan untuk mencegah penyakit Pertusis yang salah satu gejalanya adalah infeksi saluran nafas[6].
c.Mengusahakan agar anak mempunyai gizi yang baik[2,3,6]
         Bayi harus disusui sampai usia dua tahun karena ASI adalah makanan yang paling   baik untuk bayi.
         Beri bayi makanan padat sesuai dengan umurnya.
         Pada bayi dan anak, makanan harus mengandung gizi cukup yaitu mengandung cukup protein (zat putih telur), karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral.
         Makanan yang bergizi tidak berarti makanan yang mahal. Protein misalnya dapat di peroleh dari tempe dan tahu, karbohidrat dari nasi atau jagung, lemak dari kelapa atau minyak sedangkan vitamin dan mineral dari sayuran,dan buah-buahan.
         Bayi dan balita hendaknya secara teratur ditimbang untuk mengetahui apakah beratnya sesuai dengan umurnya dan perlu diperiksa apakah ada penyakit yang menghambat pertumbuhan.
d.Program KIA yang menangani kesehatan ibu dan bayi berat badan lahir rendah[8]
e.Program penyehatan lingkungan pemukiman (PLP) yang menangani masalah polusi baik di dalam maupun di luar rumah. Perilaku hidup bersih dan sehat merupakan modal utama bagi pencegahan penyakit ISPA, sebaliknya perilaku yang tidak mencerminkan hidup sehat akan menimbulkan berbagai penyakit. Perilaku ini dapat dilakukan melalui upaya memperhatikan rumah sehat, desa sehat dan lingkungan sehat[6].

3. Secondary prevention (pencegahan tingkat ke dua)
Dalam penanggulangan ISPA dilakukan dengan upaya pengobatan dan diagnosis sedini mungkin.Adapun beberapa hal yang perlu dilakukan ibu untuk mengatasi anaknya yang menderita ISPA adalah :
I. Mengatasi panas (demam)
·         Untuk orang dewasa, diberikan obat penurun panas yaitu parasetamol.
·         Untuk anak usia 2 bulan sampai 5 tahun, demam diatasi dengan memberikan parasetamol dan dengan kompres.
-        Parasetamol diberikan 4 kali tiap 6 jam untuk waktu 2 hari. Cara pemberiannya, tablet dibagi sesuai dengan dosisnya, kemudian digerus dan diminumkan.
-        Memberikan kompres, dengan menggunakan kain bersih, celupkan pada air biasa (tidak perlu air es).
·         Bayi di bawah 2 bulan dengan demam sebaiknya segera dibawa ke pusat pelayanan kesehatan.
II. Mengatasi batuk
·         Dianjurkan memberi obat batuk yang aman, yaitu ramuan tradisional berupa jeruk nipis ½ sendok teh dicampur dengan kecap atau madu ½ sendok teh , diberikan tiga kali sehari.
·         Dapat digunakan obat batuk lain yang tidak mengandung zat yang merugikan seperti kodein, dekstrometorfan, dan antihistamin.
III. Pemberian makanan
·         Berikan makanan yang cukup gizi, sedikit-sedikit tetapi berulang-ulang yaitu lebih sering dari biasanya, lebih-lebih jika muntah.
·         Pemberian ASI pada bayi yang menyusu tetap diteruskan.
IV. Pemberian minuman
Kekurangan cairan akan menambah parah sakit yang diderita. Usahakan pemberian cairan (air putih, air buah, dan sebagainya) lebih banyak dari biasanya. Ini akan membantu mengencerkan dahak dan mencegah kekurangan cairan.
V. Lain-lain
·         Tidak dianjurkan mengenakan pakaian atau selimut yang terlalu tebal dan rapat, lebih-lebih pada anak dengan demam à menghambat keluarnya panas.
·         Jika pilek, bersihkan hidung untuk mempercepat kesembuhan dan menghindari komplikasi yang lebih parah.
·         Usahakan lingkungan tempat tinggal yang sehat, yaitu yang berventilasi cukup, dengan pencahayaan yang memadai, dan tidak berasap.
·         Apabila selama perawatan dirumah keadaan memburuk, maka dianjurkan untuk membawa ke dokter.
·         Untuk penderita yang mendapat obat antibiotik, obat yang diperoleh tersebut harus diberikan dengan benar sampai habis.
·         Dan untuk penderita yang tidak mendapatkan antibiotik, usahakan agar setelah 2 hari kembali ke dokter untuk pemeriksaan ulang

4.Tertiary prevention ( pencegahan tingkat ke tiga )
Tingkat Pencegahan ini ditujukan kepada balita yang buka pneumonia agar tidak menjadi lebih parah (pneumonia)dan mengakibatkan kecacatan dan berakhir kematian.Upaya yang dapat dilakukan pada pencegahan penyakit bukan pneumonia pada bayi dan balita yaitu perhatikan apabila timbul gejala pneumonia seperti nafas menjadi sesak,anak tidak mampu minum,dan sakit bertambah menjadi parah,agar tidak menjadi parh bwalah anak kembali ke petugas kesehatan dan melakukan perawatan spesifik dirumah dengan memberikan asupan gizi dan lebih sering memberikan ASI

D.Transisi Epidemologi penyakit
 Transisi epodemiologi yang dimaksud adalah perubahan distribusi dan faktor-faktor penyebab terkait yang melahirkan masalah epodemiologi yang baru. Keadaantransisi epidemiologi ini ditandai dengan perubahan pola frekuensi penyakit.Transisiepidemiologi bermula dari suatu perubahan yang kompleks dalam pola kesehatandan pola penyakit utama penyebab kematian dimana terjadi penurunan prevalensi penyakit infeksi (penyakit menular), sedangkan penyakit non infeksi (penyakit tidakmenular) justru semakin meningkat. Hal ini terjadi seiring dengan berubahnya gayahidup, social ekoomi dan meningkatnya umur harapan hidup yang berarti meningkatnya pola risiko timbulnya penyakit degenerative seperti penyakit jantung korone, diabetes, hipertensi, dll
a.    Transisi Demografi : Transisi demografi pada dasarnya adalah keadaan dimana struktur pendudukmengalami perubahan dengan berkurangnya proporsi balita serta meningkatnyaproporsi usia remaja, usia produktif dan usia lanjut.
b.    Transisi ekonomi dan social : Perkembangan ekonomi pedesaan menuju ekonomi industri di kota yangorientasinya pasar, pada umumya akan menimbulkan penurunan resiko penyakitmenular oleh karena sanitasi dan pengetahuan yang lebih baik. Namun dalam waktuyang sama pertumbuhan ekonomi menyebabkan masalah kesehatan yang baru.Biasanya ada peningkatan angka kecelakaan yang disebabkanoleh kecelakaanlalu lintas dan kecelakaan industri, maupun bahan kimia yang bersifat toksik (sepertipestisida). Kekurangan gizi dahulu, kini dapat ditangani dengan adanya kemajuanpasar. Namun disamping itu masalah ini beralih pada masalah kelebihan gizi seperti kegemukan (obesitas), hipertensi, penyakit jantung koroner, penyempitanpembuluh darah dan diabetes melitus. Kemudian pendapatan yang meningkat cendrung membawa perubahan pada gaya hidup masyarakat, misalnyapeningkatan kebiasaan merokok, minum alkohol, dan penggunaan obat terlarangyang mengakibatkan peningkatan resiko penderita Penyakit Tidak Menular (menahun)

c.    Transisi lingkungan : Transisi lingkungan ditandai dengan persedian air bersih yang semakin sulitdan meningkatnya kerusakan hutan mengarah pada perubahan keseimbanganalam. Disamping itu, akibat kepadatan penduduk terutama di kota besar, sanitasitambah buruk dan pola penyakit penyakit juga berubah. Adannya transisi lingkungan sangat erat hubungannya dengan terjadinya proses transformasi industri. Tantangandan permasalahan kesehatan lingkungan berbeda antar satu masa dengan lainnya
Transisi lingkungan ditandai dengan persedian air bersih yang semakin sulitdan meningkatnya kerusakan hutan mengarah pada perubahan keseimbanganalam. Disamping itu, akibat kepadatan penduduk terutama di kota besar, sanitasitambah buruk dan pola penyakit penyakit juga berubah. Adannya transisi lingkungansangat erat hubungannya dengan terjadinya proses transformasi industri. Tantangandan permasalahan kesehatan lingkungan berbeda antar satu masa dengan lainnya .

E. Etika epidemologi dari penyakit ispa
Epidemiologi penyakit ISPA yaitu mempelajari frekuensi, distribusi penyakit ISPA serta Faktor-faktor (determinan) yang mempengaruhinya. Dalam distribusi penyakit ISPA ada 3 ciri variabel yang dapat dilihat yaitu variabel orang (person), variabel tempat (place), dan variabel waktu (time).
a. Menurut Orang (person)
ISPA merupakan penyakit yang sering terjadi pada anak-anak. Daya ahan tubuh anak sangat berbeda dengan orang dewasa karena sistem pertahanan tubuhnya belum kuat. Apabila di dalam satu rumah ada anggota keluarga terkena pilek, anak-anak akan lebih mudah tertular. Dengan kondisi anak yang masih lemah, proses penyebaran penyakit menjadi lebih cepat. ISPA merupakan penyebab utama kematian pada bayi dan balita di Indonesia. Menurut para ahli hampir semua kematian ISPA pada bayi dan balita umumya disebabkan oleh ISPA bawah. Infeksi Saluran Pernafasan atas Akut (ISPaA) mengakibatkan kematian pada anak dalam jumlah kecil, tetapi menyebabkan kecacatan seperti otitis media yang merupakan penyebab ketulian sehingga dapat mengganggu aktifitas belajar pada anak.
Berdasarkan data SKRT 2001, menunjukkan bahwa proporsi ISPA sebagai penyebab kematian bayi < 1 tahun adalah 27,6% sedangkan proporsi ISPA sebagai penyebab kematian anak balita 22,68%. 5
Hasil survei program P2ISPA di 12 propinsi di Indonesia (Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat) selama kurun waktu 2000-2002 prevalensi ISPA terlihat berfluktuasi, tahun 2000 prevalensi sebesar 30,1% (479.283 kasus), tahun 2001 prevalensi sebesar 22,6% (620.147 kasus) dan tahun 2002 pervalensi menjadi 22,1% (532.742 kasus)
b. Menurut Tempat (place)
ISPA masih merupakan masalah kesehatan baik di negara maju maupun negara berkembang. Dalam satu tahun rata-rata seorang anak di pedesaan dapat terserang ISPA tiga kali, sedangkan daerah perkotaan sampai enam kali.17
Dari pengamatan epidemiologi dapat diketahui bahwa angka kesakitan ISPA di kota cenderung lebih besar daripada di desa. Hal ini mungkin disebabkan oleh tingkat kepadatan tempat tinggal dan pencemaran lingkungan di kota yang lebih tinggi daripada di desa.

c. Menurut Waktu (time)
Berdasarkan Data SKRT (1986-2001), bahwa proporsi kematian karena ISPA di Indonesia pada bayi dan balita menunjukkan penurunan dan peningkatan yaitu pada bayi pada tahun 1986 dengan PMR 18,85%, tahun 1992 PMR 36,40%, tahun 1995 PMR 32,10% dan tahun 2001 PMR 27,60%. Sementara pada balita pada tahun 1986 PMR 22,80%, tahun 1992 PMR 18,20%, tahun 1995 PMR 38,80% dan tahun 2001 PMR 22,80%.5
F. Sagitiga epidemologi
   HOST


AGENT                       ENVIRONMENT

A.    Faktor Agent
Agent dari ISPA lebih dari 300 jenis bakteri, virus, dan jamur. Mayoritas penyebab ISPA adalah virus dengan frekuensi lebih dari 90% untuk ISPA bagian atas, sedangkan ISPA untuk bagian bawah frekuensinya lebih kecil (WHO, 1995). Penyakit infeksi saluran nafas akut bagian atas mulai dari hidung, nasofaring, sinus paranasalis sampai dengan laring hampir 90% disebabkan oleh viral, sedangkan infeksi akut saluran nafas bagian bawah hamper 50 % diakibatkan oleh bakteri streptococcus pneumonia adalah yang bertanggung jawab untuk kurang lebih 70-90%, sedangkan stafilococcus aureus dan H influenza sekitar 10-20%. Saat ini telah diketahui bahwa infeksi saluran pernapasan akut ini melibatkan lebih dari 300 tipe antigen dari bakteri maupun virus tersebut (WHO, 1995).

B.    Faktor Host

Ø  Usia
Anak yang usianya lebih muda, kemungkinan untuk menderita atau terkena penyakit ISPA lebih besar bila dibandingkan dengan anak yang usianya lebih tua karena daya tahan tubuhnya lebih rendah.
Ø  Jenis kelamin
Meskipun secara keseluruhan di negara yang sedang berkembang seperti Indonesia masalah ini tidak terlalu diperhatikan, namun banyak penelitian yang menunjukkan adanya perbedaan prevelensi penyakit ISPA terhadap jenis kelamin tertentu. Angka kesakitan ISPA sering terjadi pada usia kurang dari 2 tahun, dimana angka kesakitan ISPA anak perempuan lebih tinggi daripada laki-laki di negara Denmark
Ø  Status gizi
 Interaksi antara infeksi dan Kekurangan Kalori Protein (KKP) telah lama dikenal, kedua keadaan ini sinergistik, saling mempengaruhi, yang satu merupakan predisposisi yang lainnya (Tupasi, 1985). Pada KKP, ketahanan tubuh menurun dan virulensi pathogen lebih kuat sehingga menyebabkan keseimbangan yang terganggu dan akan terjadi infeksi, sedangkan salah satu determinan utama dalam mempertahankan keseimbangan tersebut adalah status gizi anak.
Ø  Status imunisasi Imunisasi berasal dari kata imun yang berarti kebal atau resisten. Anak yang diimunisasi berarti diberikan kekebalan terhadap suatu penyakit tertentu. Dalam imunologi, kuman atau racun kuman (toksin) disebut sebagai antigen. Imunisasi merupakan upaya pemberian ketahanan tubuh yang terbentuk melalui vaksinasi.28
Imunisasi bermamfaat untuk mencegah beberapa jenis penyakit infeksi seperti, Polio, TBC, difteri, pertusis, tetanus dan hepatitis B. Bahkan imunisasi juga dapat mencegah kematian dari akibat penyakit-penyakit tersebut. Sebagian besar kasus ISPA merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, penyakit yang tergolong ISPA yang dapat dicegah dengan imunisasi adalah difteri, dan batuk rejan.
Ø  Anak balita yang telah memperoleh imunisasi yang lengkap sesuai dengan umurnya otomatis sudah memiliki kekebalan terhadap penyakit tertentu maka jika ada kuman yang masuk ketubuhnya secara langsung tubuh akan membentuk antibodi terhadap kuman tersebut.
Ø  Pemberian air susu ibu (ASI)
ASI adalah makanan yang paling baik untuk bayi terutama pada bulan-bulan pertama kehidupannya. ASI bukan hanya merupakan sumber nutrisi bagi bayi tetapi juga sebagai sumber zat antimikroorganisme yang kuat, karena adanya beberapa faktor yang bekerja secara sinergis membentuk sistem biologis. ASI dapat memberikan imunisasi pasif melalui penyampaian antibodi dan sel-sel imunokompeten ke permukaan saluran pernafasan atas (William and Phelan, 1994).
C.   Environment
Lingkungan yang udaranya tidak baik, seperti polusi udara di kota-kota besar dan asap rokok dapat menyebabkan timbulnya penyakit ISPA.
Pada ISPA, dikenal 3 cara penyebaran infeksi, yaitu
1.      Melalui areosol (partikel halus) yang lembut, terutama oleh karena batuk-batuk.
2.      Melalui areosol yang lebih berat, terjadi pada waktu batuk-batuk dan bersin.
3.      Melalui kontak langsung atau tidak langsung dari benda-benda yang telah dicemari oleh jasad renik.

Faktor lingkungan
     a.       Rumah
Rumah merupakan stuktur fisik, dimana orang menggunakannya untuk tempat berlindung yang dilengkapi dengan fasilitas dan pelayanan yang diperlukan, perlengkapan yang berguna untuk kesehatan jasmani, rohani dan keadaan sosialnya yang baik untuk keluarga dan individu .
Anak-anak yang tinggal di apartemen memiliki faktor resiko lebih tinggi menderita ISPA daripada anak-anak yang tinggal di rumah culster di Denmark .
b.      Kepadatan hunian (crowded)
Kepadatan hunian seperti luar ruang per orang, jumlah anggota keluarga, dan masyarakat diduga merupakan faktor risiko untuk ISPA. Penelitian oleh Koch et al (2003) membuktikan bahwa kepadatan hunian (crowded) mempengaruhi secara bermakna prevalensi ISPA berat.
c.       Status sosioekonomi
Telah diketahui bahwa kepadatan penduduk dan tingkat sosioekonomi yang rendah mempunyai hubungan yang erat dengan kesehatan masyarakat. Tetapi status keseluruhan tidak ada hubungan antara status ekonomi dengan insiden ISPA, akan tetapi didapatkan korelasi yang bermakna antara kejadian ISPA berat dengan rendahnya status sosioekonomi .
d.      Kebiasaan merokok
Pada keluarga yang merokok, secara statistik anaknya mempunyai kemungkinan terkena ISPA 2 kali lipat dibandingkan dengan anak dari keluarga yang tidak merokok. Selain itu dari penelitian lain didapat bahwa episode ISPA meningkat 2 kali lipat akibat orang tua merokok
e.       Polusi udara
Diketahui bahwa penyebab terjadinya ISPA dan penyakit gangguan pernafasan lain adalah rendahnya kualitas udara didalam rumah ataupun diluar rumah baik secara biologis, fisik maupun kimia.
Adanya ventilasi rumah yang kurang sempurna dan asap tungku di dalam rumah seperti yang terjadi di Negara Zimbabwe akan mempermudah terjadinya ISPA anak .
Lingkungan yang udaranya tidak baik, seperti polusi udara di kota-kota besar dan asap rokok dapat menyebabkan timbulnya penyakit ISPA pada anak.

Ø  PORTAL OF ENTRY AND EXIT
DAYATAHAN HOSPES (MANUSIA)
             Seseorang terkena infeksi bergantung pada kerentanan terhadap agen infeksius. Kerentanan bergantung pada derajat ketahanan tubuh individu terhadap patogen. Meskipun seseorang secara konstan kontak dengan mikroorganisme dalam jumlah yang besar, infeksi tidak akan terjadi sampai individu rentan terhadap kekuatan dan jumlah mikroorganisme tersebut. Beberapa faktor yang mempengaruhi kerentanan tubuh terhadap kuman yaitu usia, keturunan, stress (fisik dan emosional), status nutrisi, terapi medis, pemberian obat dan penyakit penyerta.

PORTALMASUK
Sebelum seseorang terinfeksi, mikroorganisme harus masuk dalam tubuh. Kulit merupakan barier pelindung tubuh terhadap masuknya kuman infeksius. Rusaknya kulit atau ketidakutuhan kulit dapat menjadi portal masuk. Mikroba dapat masuk ke dalam tubuh melalui rute atau jalan yang sama dengan portal keluar. Faktor-faktor yang menurunkan daya tahan tubuh memperbesar kesempatan patogen masuk ke dalam tubuh.

CARAPENULARAN
pencemaran udara diduga menjadi pencetus infeksi virus pada saluran napas bagian atas. ISPA dapat ditularkan melalui air ludah, darah, bersin, udara pernapasan yang mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat ke saluran pernapasannya.

PORTALOFEXIT(jalankeluar)
Mikroorganisme yang hidup di dalam reservoir harus menemukan jalan keluar (portal of exit untuk masuk ke dalam host dan menyebabkan infeksi. Sebelum menimbulkan infeksi, mikroorganisme harus keluar terlebih dahulu dari reservoarnya. Jika reservoarnya manusia, kuman dapat keluar melalui saluran pernapasan, pencernaan, perkemihan, genitalia, kulit dan membrane mukosa yang rusak serta darah.

PROSESINFEKSI
            Infeksi terjadi secara progresif dan beratnya infeksi pada klien tergantung dari tingkat infeksi, patogenesitas mikroorganisme dan kerentanan penjamu. Dengan proses perawatan yang tepat, maka akan meminimalisir penyebaran dan meminimalkan penyakit.
Perkembangan infeksi mempengaruhi tingkat asuhan keperawatan yang diberikan.
            Berbagai komponen dari sistem imun memberikan jaringan kompleks mekanisme yang sangat baik, yang jika utuh, berfungsi mempertahankan tubuh terhadap mikroorganisme asing dan sel-sel ganas. Pada beberapa keadaan, komponen-komponen baik respon spesifik maupun nonspesifik bisa gagal dan hal tersebut mengakibatkan kerusakan pertahanan hospes. Orang-orang yang mendapat infeksi yang disebabkan oleh defisiensi dalam pertahanan dari segi hospesnya disebut hospes yang melemah. Sedangkan orang-orang dengan kerusakan mayor yang berhubungan dengan respon imun spesifik disebut hospes yang terimunosupres.
           Efek dan gejala nyata yang berhubungan dengan kelainan pertahanan hospes bervariasi berdasarkan pada sistem imun yang rusak. Ciri-ciri umum yang berkaitan dengan hospes yang melemah adalah: infeksi berulang, infeksi kronik, ruam kulit, diare, kerusakan pertumbuhan dan meningkatnya kerentanan terhadap kanker tertentu. Secara umum proses infeksi adalah sebagai berikut:
           Periode inkubasi
Interval antara masuknya patogen ke dalam tubuh dan munculnya gejala pertama.
Contoh: flu 1-3 hari, campak 2-3 minggu, mumps/gondongan 18 hari
           Tahapprodromal
Interval dari awitan tanda dan gejala nonspesifik (malaise, demam ringan, keletihan) sampai gejala yang spesifik. Selama masa ini, mikroorganisme tumbuh dan berkembang biak dan klien lebih mampu menyebarkan penyakit ke orang lain.
          Tahapsakit
Klien memanifestasikan tanda dan gejala yang spesifik terhadap jenis infeksi. Contoh: demam dimanifestasikan dengan sakit tenggorokan, mumps dimanifestasikan dengan sakit telinga, demam tinggi, pembengkakan kelenjar parotid dan saliva.
Pemulihan
Interval saat munculnya gejala akut infeksi
.

G. Aplikasi epidemologi terhadap penyakit ispa

KLASIFIKASI ISPA
WHO (1986) telah merekomendasikan pembagian ISPA menurut derajat keparahannya. Pembagian ini dibuat berdasarkan gejala-gejala klinis yang timbul dan telah ditetapkan dalam lokakarya Nasional II ISPA tahun 1988. Adapun pembagiannya sebagai berikut :
Secara anatomis yang termasuk Infeksi saluran pernapasan akut :
1. ISPA ringan
Ditandai dengan satu atau lebih gejala berikut :
a. Batuk.
b. Pilek dengan atau tanpa demam.
2. ISPA sedang
Meliputi gejala ISPA ringan ditambah satu atau lebih gejala berikut :
a. Pernapasan cepat.
1) Umur <>
2) Umur 1-4 tahun : 40 kali/menit atau lebih.
b. Wheezing(nafas menciut-ciut).
c. Sakit atau keluar cairan dari telinga.
d. Bercak kemerahan (campak).
e. Khusus untuk bayi <2>
3. ISPA berat
Meliputi gejala sedang atau ringan ditambah satu atau lebih gejala berikut :
a. Penarikan sela iga kedalam sewaktu inspirasi.
b. Kesadaran menurun.
c. Bibir/kulit pucat kebiruan.
d. Stridor (nafas ngorok) sewaktu istirahat.
e. Adanya selaput membrane difteri.
Menurut Depkes RI (1991), Pembagian ISPA berdasarkan atas umur dan tanda-tanda klinis yang didapat yaitu :
1. Untuk anak umur 2 bulan-5 tahun
Untuk anak dalam berbagai golongan umur ini ISP diklasifikasikan menjadi 3 yaitu :
a) Pneumonia berat
Tanda utama :
• Adanya tanda bahaya yaitu tidak bisa minum, kejang, kesdaran menurun, stridor, serta gizi buruk.
• Adanya tarikan dinding dada kebelakang. Hal ini terjadi bilaparu-paru menjadi kaku dan mengakibatkan perlunya tenaga untuk menarik nafas.
• Tanda lain yang mungkin ada :
- Nafas cuping hidung.
- Suara rintihan.
- Sianosis (pucat).
b) Pneumonia tidak berat
Tanda Utama :
• Tidak ada tarikan dinding dada ke dalam.
• Di sertai nafas cepat :
- Lebih dari 50 kali/menit untuk usia 2 bulan – 1 tahun.
- Lebih dari 40 kali/menit untuk usia 1 tahun – 5 tahun.
c) Bukan pneumonia
Tana utama :
• Tidak ada tarikan dinding dada kedalam.
• Tidak ada nafas cepat :
- Kurang dari 50 kali/menit untuk anak usia 2 bulan – 1 tahun.
- Kurang dari 40 kali/menit untuka anak usia 1 tahun – 5 tahun.
2. Anak umur kurang dari 2 bulan
Untuk anak dalam golongan umur ini, di klasifikasikan menjadi 2 yaitu :
a) Pneumonia berat
Tana utama :
• Adanya tanda bahaya yaitu kurang bisa minum, kejang, kesadaran menurun, stridor, wheezing, demm atau dingin.
• Nafas cepat dengan frekuensi 60 kali/menit atau lebih.
• Tarikan dinding dada ke dalam yang kuat.
b) Bukan pneumonia
Tanda utama :
• Tidak ada nafas cepat.
• Tidak ada tarikan dinding dada ke dalam.
Berikut ini adalah klasifikasi ISPA berdasarkan P2 ISPA :
  • PNEUMONIA : ditandai secara klinis oleh adanya napas cepat.
  • PNEUMONIA BERAT : ditandai secara klinis oleh adanya tarikan dinding dada ke dalam.
  • BUKAN PNEUMONIA : ditandai secara klinis oleh batuk pilek, bisa disertai demam, tanpa tarikan dinding dada kedalam, tanpa napas cepat
BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN DAN SARAN
Mata kuliah dasar-dasar epidemiologi menurut saya adalah mata kuliah yang menyenangkan , karena cara pemberian materinya yang singkat, jelas dan mudah di pahami oleh kami para mahasiswa

DAFTAR PUSTAKA
Bustan, M.N. 2000. Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Rineka Cipta: Jakarta.

Depkes RI,1994. Pedoman Program P2 ISPA dan Penanggulangan Pneumonia Pada Balita. Depkes RI: Jakarta.

Doenges, Marlyn E . Rencana Asuhan Keperawatan: pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien
Nindya, T. S. 1998 Hubungan Sanitasi Rumah Dengan Kejadian ISPA Pada Anak Balita.  www. Google. Com 14 Desember 2007.
Santosa, G. Masalah Batuk pada Anak. Continuing Education Anak. FK-UNAIR. 1980


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar