Breaking News

Rabu, 13 Maret 2013

KAWASAN PESISIR PANTAI


LAPORAN  KESLING
KAWASAN PESISIR PANTAI



FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PAREPARE
TAHUN 2013
ABRASI
A.    LATAR BELAKANG
Kerusakan lingkungan akan semakin bertambah seiring dengan berjalannya waktu. Contoh yang sering kita jumpai belakangan ini adalah masalah abrasi pantai. Abrasi pantai ini terjadi hampir di seluruh wilayah di Indonesia. Masalah ini harus segera diatasi karena dapat mengakibatkan kerugian yang sangat besar bagi makhluk hidup, tidak terkecuali manusia.
Abrasi pantai tidak hanya membuat garis-garis pantai menjadi semakin menyempit, tapi bila dibiarkan begitu saja akibatnya bisa menjadi lebih berbahaya. Seperti kita ketahui, negara kita Indonesia sangat terkenal dengan keindahan pantainya. Setiap tahun banyak wisatawan dari mancanegara berdatangan ke Indonesia untuk menikmati panorama pantainya yang sangat indah. Apabila pantai sudah mengalami abrasi, maka tidak akan ada lagi wisatawan yang datang untuk mengunjunginya. Hal ini tentunya sedikit banyak akan mempengaruhi perekonomian di Indonesia karena secara otomatis devisa negara dari sektor pariwisata akan mengalami penurunan. Selain itu, sarana pariwisata seperti hotel, restoran, dan juga kafe-kafe yang terdapat di areal pantai juga akan mengalami kerusakan yang akan mengakibatkan kerugian material yang tidak sedikit. Demikian juga dengan pemukiman penduduk yang berada di areal pantai tersebut. Banyak penduduk yang akan kehilangan tempat tinggalnya akibat rumah mereka terkena dampak dari abrasi.
Dari uraian di atas, dapat diketahui bahwa dampak dari abrasi sangat berbahaya. Untuk itu kami akan mencoba menjelaskan lebih lanjut mengenai apa itu abrasi, penyebab abrasi, dan bagaimana solusi untuk menanggulanginya. Kami harap apa yang akan kami sampaikan ini dapat memberikan pengetahuan pada masyarakat mengenai abrasi dan menambah rasa kepedulian masyarakat pada lingkungannya.
B.     PENGERTIAN ABRASI
Abrasi merupakan peristiwa terkikisnya alur-alur pantai akibat gerusan air laut. Gerusan ini terjadi karena permukaan air laut mengalami peningkatan. Naiknya permukaan air laut ini disebabkan mencairnya es di daerah kutub akibat pemanasan global.

Gambar 1.
antarafoto-1259157688-.jpg
Gambar 2.





Gambar 3.
abrasi211109-2resize.jpg
C.     PENYEBAB ABRASI
Abrasi disebabkan oleh naiknya permukaan air laut diseluruh dunia karena mencairnya lapisan es di daerah kutub bumi. Mencairnya lapisan es ini merupakan dampak dari pemanasan global yang terjadi belakangan ini. Seperti yang kita ketahui,pemanasan global terjadi karena gas-gas CO2 yang berasal dari asap pabrik maupun dari gas buangan kendaraan bermotor menghalangi keluarnya gelombang panas dari matahari yang dipantulkan oleh bumi, sehingga panas tersebut akan tetap terperangkap di dalam atmosfer bumi dan mengakibatkan suhu di permukaan bumi meningkat. Suhu di kutub juga akan meningkat dan membuat es di kutub mencair, air lelehan es itu mengakibatkan permukaan air di seluruh dunia akan mengalami peningkatan dan akan menggerus daerah yang permukaannya rendah. Hal ini menunjukkan bahwa terjadinya abrasi sangat erat kaitannya dengan pencemaran lingkungan.
Dalam beberapa tahun terakhir, garis pantai di beberapa daerah di Indonesia mengalami penyempitan yang cukup memprihatinkan. Seperti yang terjadi di daerah pesisir pantai wilayah kabupaten Indramayu. Abrasi yang terjadi mampu menenggelamkan daratan antara 2 hingga 10 meter pertahun dan sekarang dari panjang pantai 114 kilometer telah tergerus 50 kilometer. Dari 10 kecamatan yang memiliki kawasan pantai, hanya satu wilayah kecamatan yakni kecamatan Centigi yang hampir tidak memiliki persoalan abrasi. Hal ini karena di wilayah kecamatan Centigi kawasan hutan mangrove yang ada masih mampu melindungi kawasan pantai dari abrasi.
Tingkat abrasi yang cukup tinggi juga terjadi di kecamatan Pedes dan Cibuaya Kabupaten Karawang. Meskipun abrasi pantai dinilai belum pada kondisi yang membahayakan keselamatan warga setempat, namun bila hal itu dibiarkan berlangsung, dikhawatirkan dapat menghambat pengembangan potensi kelautan di kabupaten Karawang secara keseluruhan, baik pengembangan hasil produksi perikanan maupun pemanfaatan sumber daya kelautan lainnya.
Abrasi yang terjadi di kabupaten Indramayu dan kabupaten Karawang merupakan contoh kasus abrasi yang terjadi di Indonesia. Selain di kedua tempat tadi, masih banyak daerah lain yang juga mengalami abrasi dengan tingkat yang tergolong parah. Apabila hal ini tidak ditindaklanjuti secara serius, maka dikhawatirkan dalam waktu yang tidak lama beberapa pulau yang permukaannya rendah akan tenggelam.Selain abrasi, masalah yang terjadi di daerah pesisir pantai adalah masalah pencemaran lingkungan pantai. Beberapa pantai mengalami pencemaran yang cukup parah seperti kasus yang terjadi di daerah Balikpapan, dimana pada tahun 2004 tercemar oleh limbah minyak. Tumpukan kerak minyak atau sludge berwarna hitam yang mirip dengan gumpalan aspal tersebut beratnya diperkirakan mencapai 300 ton. Contoh lain adalah kasus yang terjadi di sekitar teluk Jakarta. Berbagai jenis limbah dan ribuan ton sampah yang mengalir melalui 13 kali di Jakarta berdampak pada kerusakan Pantai Taman Nasional Kepulauan Seribu. Pada tahun 2006, kerusakan terumbu karang dan ekosistem taman nasional itu diperkirakan mencapai 75 kilometer. Tahun lalu saja telah terjadi kerusakan serius sepanjang 40 kilometer. Kali Ciliwung, Banjir Kanal Barat (BKB), Kali Sunter, dan Kali Pesanggrahan merupakan penyumbang pencemaran terbesar ke Teluk Jakarta. Setiap hari Kali Ciliwung, BKB, dan Kali Sunter mengalirkan sampah yang berton-ton banyaknya. Sampah berbagai jenis itu mengalir ke Teluk Jakarta, dan sampai ke Pantai Taman Nasional Kepulauan Seribu. Kondisi ini memerlukan penanganan segera. Terkait dengan itu, pencemaran teluk Jakarta harus segera diatasi, terutama dengan melakukan pengurangan limbah sampah di sungai.
Pencemaran yang terjadi di pesisir pantai merupakan sesuatu yang sangat merugikan bagi manusia. Selain itu, sebagian besar objek wisata di Indonesia merupakan wisata pantai. Keindahan panorama pantai membuat wisatawan dari mancanegara berdatangan ke Indonesia. Hal ini seharusnya membuat pemerintah lebih mempedulikan kebersihan dan keasrian pantai, karena apabila keadaan pantai tidak bersih dan dipenuhi sampah, wisatawan tidak akan mau lagi mengunjungi pantai di Indonesia yang akibatnya dapat mengurangi devisa negara.
Rusaknya lingkungan pantai juga dapat merusak ekosistem yang ada disana. Biota yang hidup di daerah pantai seperti terumbu karang dan ikan-ikan kecil akan mati bila tingkat pencemarannya tinggi. Untuk itu diperlukan upaya dari pemerintah maupun masyarakat untuk menjaga keindahan dan keasrian pantai.
D.    PENYELESAIAN
Berbagai usaha telah dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat untuk mengatasi masalah abrasi dan pencemaran pantai ini. Untuk mengatasi masalah abrasi di Indonesia ini pemerintah secara bertahap melakukan pembangunan alat pemecah ombak serta penghijauan hutan mangrove di sekitar pantai yang terkena abrasi tersebut. Dalam mengatasi masalah abrasi ini, tentu ada saja hambatan-hambatan dan juga kesulitan-kesulitan yanag akan dihadapi, misalnya dalam pembangunan alat pemecah ombak ini diperlukan biaya yang sangat mahal dan juga wilayah tempat pembangunannya sangat luas, sehingga untuk membangun alat ini di seluruh pantai yang terkena abrasi akan memerlukan waktu yang sangat lama dan juga biaya yang sangat mahal. Upaya penanaman tanaman bakau di pinggir pantai juga banyak hambatannya. Tanaman bakau hanya dapat tumbuh pada tanah gambut yang berlumpur. Hal ini akan menjadi sangat sulit karena sebagian besar pantai di Indonesia merupakan perairan yang dasarnya tertutupi oleh pasir, seperti kita ketahui bahwa tanaman bakau tidak dapat tumbuh pada daerah berpasir. Meskipun sangat sulit, tetapi usaha untuk mangatasi abrasi ini harus terus dilakukan. Jika masalah abrasi ini tidak segera ditanggulangi, maka bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan luas pulau-pulau di Indonesia banyak yang akan berkurang. Agar upaya ini dapat berjalan dengan lebih baik, maka peranan dari semua elemen masyarakat sangat diperlukan. Pemerintah tidak akan dapat mengatasinya tanpa partisipasi dari masyarakat. Apabila alat pemecah ombak berhasil dibangun dan hutan bakau atau hutan mangrove berhasil ditanam, maka dampak abrasi tentu akan dapat dikurangi meskipun tidak sampai 100%.
Masalah pencemaran pantai juga harus diatasi denga sangat serius karena dapat merusak keindahan dan keasrian pantai. Untuk megatasi permasalahan ini kesadaran masyarakat akan pentingnya lingkungan harus ditingkatkan. Selain itu peraturan untuk tidak merusak lingkungan harus dibuat dan menindak dengan tegas bagi siapa pun yang melanggarnya.
Sekarang ini, di beberapa pantai masih banyak ditemui sampah-sampah yang berserakan. Selain itu, limbah pabrik yang beracun banyak yang dialirkan ke sungai yang kemudian mengalir ke laut. Hal ini dapat merusak ekosistem laut, dan juga dapat membunuh beberapa biota laut. Pemerintah seharusnya menghimbau agar seluruh pabrik-pabrik tersebut agar membuang limbahnya setelah dinetralisasi terlebih dahulu.
E.     KESIMPULAN DAN SARAN
Abrasi dan pencemaran pantai merupakan masalah pelik yang dihadapi oleh masyarakat. Dari penjelasan kami di atas kami dapat menyimpulkan beberapa hal. Adapun beberapa kesimpulan yang dapat kami sampaikan adalah sebagai berikut :
1.      Abrasi diakibatkan oleh maiknya permukaan air laut karena mencairnya lapisan es yang ada di daerah kutub bumi. Es tersebut mencair akibat terjadinya pemanasan global.
2.      Masalah abrasi maupun pencemaran lingkungan ini sangat sulit untuk diatasi karena kurangnya kesadaran masyarakat akan lingkungannya. Masih banyak orang yang membuang sampah pada sembarang tempat yang nantinya dapat mencemari lingkungan.
3.      Dampak yang diakibatkanoleh abrasi ini sangat besar. Garis pantai akan semakin menyempit dan apabila tidak diatasi lama kelamaan daerah-daerah yang permukaannya rendah akan tenggelam.
4.      Dampak dari abrasi dapat dikurangi dengan membangun alat pemecah ombak dan juga menanam pohon bakau di pinggir pantai. Alat pemecah ombak dapat menahan laju ombak dan memecahkan gelombang air sehingga kekuatan ombak saat mencapai bibir pantai akan berkurang. Demikian juga dengan pohon bakau yang ditanam di pinggiran pantai. Akar-akarnya yang kokoh dapat menahan kekuatan ombak agar tidak mengikis pantai.
Dari kesimpulan tersebut dapat kita lihat penyebab abraasi dan juga beberapa cara untuk mengatasinya. Kita juga dapat mengetahui dampak yang dapat ditimbulkan apabila hal ini tidak segera diatasi. Menurut kami permasalahan ini harus diselesaikan bukian hanya oleh pemerintah, tapi juga memerlukan partisipasi dari masyarakat.
Selain kesimpulan tadi, kami juga memiliki beberapa saran yang akan kami sampaikan. Adapun saran-saran yang akan kami sampaikan adalah sebagai berikut :
1.      Masyarakat harus mengambil peran dalam mengatasi masalah abrasi dan pencemaran pantai, karena usaha dari pemerintah saja tidak cukup berarti tanpa bantuan dari masyarakat.
2.      Pemerintah harus memberikan hukuman yang tagas bagi setiap orang yang merusak lingkungan.
3.      Pembangunan alat pemecah ombak dan penanaman pohon bakau harus segera dilakukan agar abrasi yang terjadi di beberapa daerah tidak bertambah parah.
4.      Bagi para pemilik pabrik maupun usaha apapun yang ada di sekitar pantai agar tidak membuang limbah atau sampah ke laut. Mereka harus menyediakan sarana kebersihan agar limbah atau sampah yang mereka hasilkan tidak mencemari pantai.
Demikianlah saran-saran yang dapat kami sampaikan,semoga apa yang telah kami sampaikan dapat menambah pengetahuan bagi masyarakat agar mau menjaga keasrian dan kebersiha lingkungan. Semua orang harus ikut berperan serta dalam menanggulangi masalah yang sangat berbahaya yang bernama ABRASI.




SAMPAH
A.    Latar belakang
Sebagai negara kelautan, jutaan orang Indonesia pastilah beraktivitas di pinggir dan/atau di atas laut. Namun banyak di antara kita yang tidak sadar bahwa aktivitas hidup setiap harinya, baik dari mengendarai/menggunakan kendaraan, sampai tidak membuang sampah pada tempatnya, atau bahkan membuang puntung rokok sembarangan, dapat berakibat buruk pada makhluk hidup yang terdapat di laut. Keberadaan sampah di laut dapat mengakibatkan kecelakaan bahkan sampai kematian pada biota laut. Polusi juga membuat pantai menjadi kurang nyaman untuk dikunjungi. Penyelesaian masalah pencemaran laut membutuhkan partisipasi semua pihak.
B.     Asal sampah laut
Anda mungkin bertanya, bagaimana sampai sampah yang ada di daratan bisa masuk ke laut. Sederhana saja, lain kali ketika menyusuri jalan, lihatlah sampah yang bertebaran. Ketika turun hujan, sampah-sampah yang ada di pinggir jalan dan jalanan umum  akan terakumulasi di selokan yang ada di pinggir jalan. Karena di negara kita umumnya saluran pembuangannya langsung menuju ke laut, sampah-sampah tersebut kemudian langsung masuk ke laut. Seperti yang kita ketahui bersama, banyak penduduk yang masih juga belum dapat meninggalkan kebiasaan lama membuang sampah langsung ke laut, baik tiap harinya, namun saat kita berwisata ke pantai.
Penduduk Indonesia yang bermukim di kawasan pesisir hampir pasti mengunjungi pantai untuk berwisata bahari paling kurang sekali dalam setahun. Ketika sampai di pantai, bukan hanya pasir pantai yang akan dilihat di sana, namun juga sampah yang bertebaran.
13602531081301939737

Masih segar di ingatan kita salah satu contoh yang sempat menjadi topik utama di media cetak maupun elektronik, ketika sampah bertebaran di pantai Kuta, salah satu tujuan wisata pantai yang paling sering dikunjungi di Pulau Bali. Menurut seorang petugas  Badan Penyelamat Wisata Tirta Balawisata Kuta, seperti yang dilansir oleh salah satu media elektronik, sampah-sampah tersebut merupakan sampah “kiriman” dari laut akibat terbawa arus dan angin musim barat. Bupati Badung AA Gde Agung bahkan sempat menyatakan dalam salah satu wawancara dengan stasiun beritaAntara pada bulan April yang lalu bahwa sampah kiriman ini bisa mencapai sekitar 100 truk setiap harinya saat itu. Angka ini memang masih harus diverifikasi lebih lanjut, namun paling tidak bisa memberikan gambaran seriusnya masalah penanganan sampah kiriman yang harus dihadapi pemerintah Bali.
Pada tahun 1975, the National Academy of Sciences di Amerika Serikat mengeluarkan laporan yang berisi dugaan bahwa kapal-kapal kargo dan transportasi penumpang membuang 14 milyar pound atau sekitar 6,4 x 10^9 kg sampah ke laut. Sebuah perjanjian internasional untuk Pencegahan Pencemaran dari Kapal (MARPOL 73/78) ditandatangani dua tahun sebelumnya, namun baru efektif dilaksanakan oleh negara-negara penanda tangan pada tahun 1978. Annex V yang khusus mengatur mengenai pencegahan pencemaran sampah dari kapal efektif berlaku sejak 31 Desember 1988, dan Indonesia termasuk salah satu negara yang meratifikasi perjanjian ini. Salah satu isi annex ini melarang dibuangnya segala jenis plastik di laut. Peraturan tersebut sedikit banyak telah ikut mengurangi jumlah sampah yang terakumulasi di pantai dan laut. Namun masalah pencemaran plastik tetap merupakan masalah besar. Salah satu kajian yang dilakukan pada tahun 2001 menduga terdapat sekitar 334.271 lembar plastik per mil^2 di pusaran Pasifik Utara Tengah (North Central Pacific Gyre), yang merupakan sistem eddy alamiah untuk mengumpulkan benda-benda pada satu titik tertentu. Sekitar 60 hingga 80% sampah di laut diperkirakan berasal dari daratan.[1] Sampah plastik di laut beresiko menyebabkan masalah pada 267 spesies biota laut di seluruh dunia, termasuk 86% dari keseluruhan spesies kura-kura, 44%  dari keseluruhan spesies burung laut dan 43% spesies mamalia laut.
images (3).jpg
Gambar 2.
Gambar 3.
sampah di pantai marunda 1.JPG
C.     Akibat buruk sampah bagi biota laut dan manusia
Sampah-sampah yang terakumulasi di laut bukan saja dapat berakibat buruk bagi biota laut, namun juga bagi manusia. Bagi biota laut, sampah seperti benang pancing, tali rafia dan wadah minuman kaleng berbentuk 6 cincin dari plastik dapat menghambat mobilitas fauna laut yang terjebak dalam lilitannya. Saat terlilit, fauna laut akan menderita kesulitan makan, bernapas dan berenang, yang pada akhirnya dapat berakibat fatal. Apalagi plastik merupakan bahan yang baru akan terurai setelah beratus-ratus tahun, dan karenanya masih dapat menjebak dan membunuh fauna laut bertahun-tahun lamanya.Sekitar 90% dari sampah laut terapung adalah plastik. Karena karakteristiknya yang tahan lama, dapat terapung dan mampu mengakumulasi racun yang ada di laut, plastik sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup biota laut. Salah satu tipe sampah plastik yang ditemukan di seluruh dunia adalah partikel plastik atau nurdles/plastic pellets, yaitu bahan mentah plastik berupa butiran kecil yang diangkut ke pabrik pembuatan plastik untuk kemudian diproses menjadi peralatan makan plastik, mainan dan sebagainya.
Salah satu akibat buruk lainnya adalah plastik sering dikira sebagai makanan oleh burung, ikan dan mamalia laut.  Beberapa induk burung bahkan memberi makan anak-anaknya dengan plastik. Ketika plastik dimakan, fauna laut akan merasa kekenyangan, padahal sesungguhnya tidak ada asupan nutrisi yang dibutuhkan tubuh mereka. Akibatnya mereka akan mati kelaparan. Kura-kura laut bahkan salah mengira kantong plastik sebagai ubur-ubur, salah satu makanan kesukaan fauna ini. Bahkan paus abu-abu pernah ditemukan tewas dengan kantong dan lembaran plastik dalam lambung mereka.
Akibat buruk sampah di laut bagi manusia di antaranya adalah bahwa beberapa jenis sampah seperti sampah beling/pecahan kaca dan logam yang tersembul dari pasir dapat melukai wisatawan yang mengunjungi pantai. Padahal beling atau pecahan kaca dapat didaur ulang untuk membuat gelas, insulasi dan aspal. Di Negara Bagian Kalifornia AS pada 1993, ada 600 ton beling yang didaur ulang, yang menyerap 4320 tenaga kerja.Selain itu sampah juga beresiko mengancam keselamatan dan mata pencarian para nelayan dan perahu-perahu wisata. Hal ini karena sampah jaring dan benang pancing serat tunggal dapat melilit propeler mesin perahu/kapal yang digunakan. Di samping itu, kantong dan pelapis plastik dapat menghalangi saluran pendingin mesin, sehingga mesin menjadi cepat panas dan akhirnya memperpendek masa pakainya. Akibat yang ditimbulkan adalah resiko kecelakaan, mahalnya biaya perbaikan dan hilangnya waktu melaut, yang akhirnya akan menurunkan pendapatan nelayan.
D.    Apa yang dapat kita lakukan?
Seperti yang dikemukakan pada bagian akhir paragraf pertama dari tulisan ini, partisipasi semua pihak diperlukan guna mengatasi pencemaran laut.
·         Gunakan lebih sedikit barang. Banyak masalah pencemaran yang terjadi sebenarnya merupakan masalah sumber daya yang tidak digunakan secara efisien. Padahal sebenarnya untuk tiap barang yang kita daur ulang atau gunakan kembali, kita sudah menghemat satu sampah yang akan berakhir di laut dan mengancam keselamatan manusia dan biota laut.
Semua barang yang kita gunakan setiap harinya berasal dari alam seperti pepohonan, minyak bumi, pasir, air, tanah dan logam, di mana banyak di antaranya merupakan sumber daya yang tak dapat diperbarui. Dengan membuang sampah pada lahan yang dikhususkan untuk itu seperti untuk landfill, dan bukannya langsung ke laut, kita akan mengurangi secara drastis penggunaan sumber daya alam tidak terbarukan yang masih tersisa.
Logam misalnya, hampir 75% dari keseluruhan jenisnya hanya digunakan sekali. Daur ulang logam mengurangi pencemaran air dan udara, dan hanya membutuhkan 70% dari tenaga yang dibutuhkan untuk produksi logam dari bahan mentah.
·         Berpartisipasilah dalam penyelesaian masalah sampah laut. Sampah laut yang terdampar di kawasan pesisir sebenarnya merupakan indikasi masalah polusi perairan yang jauh lebih besar yang disebabkan oleh masyarakat biasa yang melakukan hal yang biasa mereka lakukan setiap harinya. Hujan menyapu ceceran minyak dari lahan parkir, pupuk dari tanah pertanian, kotoran hewan peliharaan dari trotoar dan pinggir jalan dan bahan cemar lainnya dari sumber-sumber lain. Berbagai racun tersebut akan terbawa air hujan ke laut melalui selokan, yang pada gilirannya akan meracuni sumber air dan biota laut. Kita dapat berperan dalam mengatasi masalah ini dengan mendaur ulang oli bekas, memperbaiki tanki kendaraan yang bocor, menggunakan produk-produk yang tidak beracun dan praktek-praktek lainnya sehingga selokan tidak tersumbat dan bersih.
Praktek-praktek tersebut meliputi:
•    Daur ulang, gunakan kembali dan mengurangi (Reduce, Reuse and Recycle) penggunaan barang-barang di rumah, di tempat kerja dan di sekolah. Kertas bekas misalnya, dapat digunakan sebagai bahan mentah pembuatan kertas baru dan produk-produk yang terbuat dari kertas. Selain itu kertas dapat digunakan kedua sisinya. Setiap 907 kg kertas yang didaur ulang kembali berarti ada 17 pohon yang diselamatkan.
·         Belilah produk yang dibuat dari bahan daur ulang dengan kemasan seminim mungkin atau tanpa kemasan sama sekali.J
·         Jagalah agar selokan di lingkungan kita bersih, karena semua yang masuk di dalamnya akan bermuara di laut.
·         Jangan buang puntung rokok di jalan dan di pantai
·         Buanglah benang, jaring dan mata pancing pada tempat yang sesuai, dan bukan di laut.
Ketika laut menjadi tempat sampah kita semua, maka tanggung jawab kita bersama jugalah untuk membersihkannya dan memastikan bahwa laut nyaman ditinggali oleh biota laut dan dikunjungi oleh manusia untuk rekreasi maupun dalam mencari nafkah. Ayo, marilah disiplin membuang sampah pada tempat yang disediakan!Yht.141211.
E.     Daftar pustaka
Sumber utama : laman pendidikan masyarakat Negara Bagian Kalifornia AS, diakses tanggal 14 Desember 2011
Sumber lainnya (tanpa link):
[1]    Laist, D. W., 1997. Impacts of marine debris: entanglement of marine life in marine debris including a comprehensive list of species with entanglement and ingestion records. In: Coe, J. M. and D. B. Rogers (Eds.), Marine Debris — Sources, Impacts and Solutions. Springer-Verlag, New York, pp. 99-139.

Designed By Published.. Blogger Templates