Breaking News

Kamis, 04 Juli 2013

“LETUSAN GUNUNG KRAKATAU DI SELAT SUNDA”



TUGAS INDIVIDU
EPIDEMILOGI KESEHATAN DARURAT
JUDUL :




LETUSAN GUNUNG KRAKATAU DI SELAT SUNDA


DISUSUN OLEH:
VI. EPIDEMIOLOGI

FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PAREPARE





KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat dan rahmatnya penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Penulis berharap makalah ini dapat berguna dan dipergunakan bagi pembaca sekalian sehingga makalah ini bisa bermanfaat dan terus bermanfaat bagi semuanya.amin
Namun penulis menyadari bahwa tak ada gading yang tak retak begitu pun dengan makalah ini masih penuh dengan kekurangan, maka penulis mohon maaf bila dalam penulisan makalah ini ada hal yang mungkin menyinggung pembaca.
Akhir kata wassalamu alaikum wr.wb.

Parepare, Mei 2013

                                                                                                            Julhawia



DAFTAR ISI

SAMPUL……………………………………………………………………..       1
KATA PENGANTAR ..................................................................................         2
DAFTAR ISI .................................................................................................         3
BAB 1 PENDAHULUAN..................................................................................... 4
A.    Latar Belakang ............................................................................................ 4
B.     Analisis Situasi .................................................................................... ....... 6
C.     Ruang Lingkup .................................................................................... ....... 6
D.    Tujuan
-          Tujuan Khusus ............................................................................... ....... 7
-          Tujuan Umum ................................................................................ ....... 8
E.     Sasaran ................................................................................................. ....... 8
F.      Definisi Operasional ............................................................................ ....... 8

BAB II KEBIJAKAN ................................................................................... ..... 14

BAB III PENANGANAN MASALAH ....................................................... ..... 15

BAB IV PENGORGANISASIAN ............................................................... ..... 18

BAB V STANDAR MINIMAL ................................................................... ..... 21

BAB VI PENUTUP
A.    KESIMPULAN .................................................................................. ..... 27
B.     SARAN ............................................................................................... ..... 27

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 28



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Krakatau adalah kepulauan vulkanik yang masih aktif dan berada di Selat Sunda antara pulau Jawa dan Sumatra. Nama ini pernah disematkan pada satu puncak gunung berapi di sana (Gunung Krakatau) yang sirna karena letusannya sendiri pada tanggal 26-27 Agustus 1883. Letusan itu sangat dahsyat; awan panas dan wave yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Sampai sebelum tanggal 26 Desember 2004, wave ini adalah yang terdahsyat di kawasan Samudera Hindia. Suara letusan itu terdengar sampai di Alice Springs, state dan Pulau Rodrigues dekat Afrika, 4.653 kilometer. Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali bom corpuscle yang diledakkan di Hiroshima dan metropolis di akhir Perang Dunia II.
Letusan Krakatoa menyebabkan perubahan iklim global. Dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga New York. Ledakan Krakatoa ini seben arnya masih kalah dibandingkan dengan letusan Gunung Toba dan Gunung Tambora di Indonesia, Gunung Tanpo di Selandia Baru dan Gunung Katmal di Alaska. Namun gunung-gunung tersebut meletus jauh di masa populasi manusia masih sangat sedikit. Sementara ketika Gunung Krakatoa meletus, populasi manusia sudah cukup padat, sains dan teknologi telah berkembang, telegraf sudah ditemukan, dan kabel bawah laut sudah dipasang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa saat itu teknologi informasi sedang tumbuh dan berkembang pesat.

Tercatat bahwa letusan Gunung Krakatoa adalah bencana besar pertama di dunia setelah penemuan telegraf bawah laut. Kemajuan tersebut, sayangnya belum diimbangi dengan kemajuan di bidang geologi. Para ahli geologi saat itu bahkan belum mampu memberikan penjelasan mengenai letusan tersebut.
Gunung Krakatau adalah gunung api di Selat Sunda yang menyebabkan bencana besar. Pada tanggal 26 Agustus 1883, Gunung Krakatau meletus sehingga menewaskan ribuan penduduk Hindia-Belanda. Suara letusannya terdengar hingga di negara Australia dan disebut sebagai suara yang sangat berisik karena terus terjadi selama kurun waktu 40 jam.(sumber: Film Dokumentasi Krakatoa The Last Day (produksi BBC)).
 Dampak yang ditimbulkan bukan hanya tsunami saja, abu letusan Gunung Krakatau menyelimuti atmosfer menyebabkan berkurangnya intensitas sinar dan cahaya matahari yang jatuh ke permukaan bumi. Kondisi ini bertahan hingga hampir satu tahun lamanya. Efek jangka panjangnya adalah matahari terlihat redup selama setahun serta turunnya suhu udara secara global hingga abad ke-20. Menurut teori dari para ahli vulkanologi, erupsi besar ini akan terulang kembali dalam periode lebih dari 100 tahun.
Berdasarkan letusannya tersebut. Gunung Krakatau dimasukkan ke dalam tipe Pelee(Pelean Type) dengan cirri-ciri erupsi berupa eksplosif dengan daya letusan yang sangat besar karena konsentrat magma kental,tekanan gas tinggi, dan dapur magma yang dalam. Ciri khas erupsi tipe Pelee adalah pembentukan awan pijar (miee ardene).
Dalam Data Dasar Gunung Api di Indonesia hasil rangkuman dari Departemen Pertambangan dan Energi, Direktorat Jenderal Pertambangan Umum, dan Direktorat Vulkanologi, Krakatau saat itu melepaskan energi satu juta lebih besar dari pada bom hidrogen. Dahsyatnya kekuatan ini menimbulkan tsunami yang diperkirakan mencapai lebih dari 36 meter dan menyebabkan kematian bagi puluhan ribu manusia.

Di dalam daftar Volcanic Explosivity Index (VEI),letusan Gunung Krakatau berada di skala 6 dan 8 yang berarti letusannya tergolong dahsyat dengan materi vulkanik yang terlempar lebih dari 10 km2. Menurut erupsi ini akan terulang kembali dalam peride lebih dari 100 tahun.
B.     Analisis Situasi
129 tahun lalu, tepatnya pada 27 Agustus 1883, Gunung Krakatau meletus. Besarnya kekuatan daya ledak membuat suara letusan Krakatau terdengar hingga radius hampir 5.000 kilometer. Gunung yang terletak di antara Pulau Sumatra dan Jawa ini memuntahkan 13 kubik mil isi perut bumi. Sepertiga bagian jatuh di sekitarnya, lainnya dalam radius 32 kilometer. Sisanya sebanyak empat kubik mil mengelilingi Bumi di lapisan atmosfer sampai beberapa tahun berikutnya. Menyebabkan perubahan cuaca di beberapa tempat di dunia.
Dalam Data Dasar Gunung Api di Indonesia hasil rangkuman dari Departemen Pertambangan dan Energi, Direktorat Jenderal Pertambangan Umum, dan Direktorat Vulkanologi, Krakatau saat itu melepaskan energi satu juta lebih besar dari pada bom hidrogen. Dahsyatnya kekuatan ini menimbulkan tsunami yang diperkirakan mencapai lebih dari 36 meter dan menyebabkan kematian bagi puluhan ribu manusia.
Ledakan awal di 26 Agustus sore meluluhkan dua pertiga bagian utara dari pulau. Menghasilkan serangkaian aliran piroklastika dan tsunami. Empat ledakan susulan terjadi lagi pada 27 Agustus pukul 05.30 pagi, mencapai puncaknya pada pukul 10.02. Dentuman yang menyertai ledakan terdengar hingga ke Singapura dan Australia. Selama itu, batu apung dan abu halus dihembuskan hingga ketinggian 70-80 kilometer, menutupi daerah seluas 827.000 kilometer persegi. 31.000 dari 36.000 warga yang tewas merupakan korban tsunami ketika sebagian besar pulau yang didiami Krakatau tenggelam ke Selat Sunda. Sedangkan 4.500 orang lainnya tewas terpanggang karena aliran piroklastika.
Letusan ini tidak berhenti dalam hitungan hari. Karena hingga periode September-Oktober di tahun yang sama, terjadi letusan lumpur dalam skala kecil. 44 tahun setelah ledakan ini, Krakatau mulai membangun diri kembali dengan beberapa letusan antara 29 Desember 1927 dan 5 Februari 1928. Tercatat jumlah korban yang tewas mencapai 36.417 orang berasal dari 295 kampung kawasan pantai mulai dari Merak (Serang) hingga Cilamaya di Karawang, pantai barat Banten hingga Tanjung Layar di Pulau Panaitan (Ujung Kulon serta Sumatera Bagian selatan.

C.    Ruang Lingkup
Dalam makalah ini membahas tentang standar minimal, penanganan masalah, pengorganisasian serta berapa jumlah korban, dan bagaimana kebijakan pemerintah dalam menangani bencana letusan gunung di krakatau.

D.    Tujuan
-          Tujuan Khusus
Terselenggaranya pelayanan kesehatan bagi korban akibat bencana letusan gunung Krakatau sesuai dengan standar minimalnya.



-          Tujuan Umum
i.     Terpenuhinya kebutuhan pangan dan gizi bagi korban bencana letusan gunung Krakatau.
ii.   Terpenuhinya pelayanan kesehatan bagi korban bencana letusuan gunung Krakatau.
iii. Memberikan informasi untuk mengantisipasi bahaya yang terjadi pada letusan gunung Krakatau.

E.     Sasaran
Petugas kesehatan, organisasi dan sukarelawan yang terkait dalam penanggulangan bencana dan penanganan pengungsi bencana gunung Krakatau.
F.     Defenisi Operasional
1.      Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
2.      Penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat, dan rehabilitasi.
3.      Pencegahan bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan risiko bencana, baik melalui pengurangan ancaman bencana maupun kerentanan pihak yang terancam bencana.
4.      Kesiapsiagaan adalah serangkaian yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna.
5.      Peringatan dini adalah serangkaian kegiatan pemberian peringatan sesegera mungkin kepada masyarakat tentang kemungkinan terjadinya bencana pada suatu tempat oleh lembaga yang berwenang.
6.      Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.
7.      Krakatau adalah kepulauan vulkanik yang masih aktif dan berada di Selat Sunda antara pulau Jawa dan Sumatra. Nama ini pernah disematkan pada satu puncak gunung berapi di sana (Gunung Krakatau) yang sirna karena letusannya sendiri pada tanggal 26-27 Agustus 1883.

a.      Defenisi
Gunung Krakatau adalah gunung api di Selat Sunda yang menyebabkan bencana besar. Pada tanggal 26 Agustus 1883, Gunung Krakatau meletus sehingga menewaskan ribuan penduduk Hindia-Belanda. Suara letusannya terdengar hingga di negara Australia dan disebut sebagai suara yang sangat berisik karena terus terjadi selama kurun waktu 40. Abu letusan Gunung Krakatau menyelimuti atmosfer menyebabkan berkurangnya intensitas sinar dan cahaya matahari yang jatuh ke permukaan bumi. Kondisi ini bertahan hingga hampir satu tahun lamanya. Efek jangka panjangnya adalah matahari terlihat redup selama setahun serta turunnya suhu udara secara global hingga abad ke-20. Menurut teori dari para ahli vulkanologi, erupsi besar ini akan terulang kembali dalam periode lebih dari 100 tahun.




b.      Ciri-ciri gunung akan meletus
Gunung yang akan meletus dapat diketahui melalui beberapa tanda, antara lain:
·         Suhu di sekitar gunung naik.
·         Mata air menjadi kering
·         Sering mengeluarkan suara gemuruh, kadang disertai getaran (gempa)
·         Tumbuhan di sekitar gunung layu
·         Binatang di sekitar gunung bermigrasi

c.       Hasil letusan gunung berapi
Berikut adalah hasil dari letusan gunung berapi, antara lain :
·         Gas vulkanik 
Gas yang dikeluarkan gunung berapi pada saat meletus. Gas tersebut antara lain Karbon monoksida (CO), Karbon dioksida (CO2), Hidrogen Sulfida (H2S), Sulfur dioksida(S02), dan Nitrogen (NO2) yang dapat membahayakan manusia.


·         Lava dan aliran pasir serta batu panas
Lava adalah cairan magma dengan suhu tinggi yang mengalir dari dalam Bumi ke permukaan melalui kawah. Lava encer akan mengalir mengikuti aliran sungai sedangkan lava kental akan membeku dekat dengan sumbernya. Lava yang membeku akan membentuk bermacam-macam batuan.


·         Lahar 
Lahar adalah lava yang telah bercampur dengan batuan, air, dan material lainnya. Lahar sangat berbahaya bagi penduduk di lereng gunung berapi.
·         Hujan Abu
Yakni material yang sangat halus yang disemburkan ke udara saat terjadi letusan. Karena sangat halus, abu letusan dapat terbawa angin dan dirasakan sampai ratusan kilometer jauhnya. Abu letusan ini bisa menganggu pernapasan.
·         Awan panas
Yakni hasil letusan yang mengalir bergulung seperti awan. Di dalam gulungan ini terdapat batuan pijar yang panas dan material vulkanik padat dengan suhu lebih besar dari 600 °C. Awan panas dapat mengakibatkan luka bakar pada tubuh yang terbuka seperti kepala, lengan, leher atau kaki dan juga dapat menyebabkan sesak napas.

d.      Bahaya Letusan Gunung Api:
Bahaya Letusan Gunung Api di bagi menjadi dua berdasarkan waktu kejadiannya, yaitu :
·         Bahaya Utama (Primer) 
1.      Awan Panas, merupakan campuran material letusan antara gas dan bebatuan (segala ukuran) terdorong ke bawah akibat densitas yang tinggi dan merupakan adonan yang jenuh menggulung secara turbulensi bagaikan gunung awan yang menyusuri lereng. Selain suhunya sangat tinggi, antara 300 - 700? Celcius, kecepatan lumpurnyapun sangat tinggi, > 70 km/jam (tergantung kemiringan lereng).

  1. Lontaran Material (pijar),terjadi ketika letusan (magmatik) berlangsung. Jauh lontarannya sangat tergantung dari besarnya energi letusan, bisa mencapai ratusan meter jauhnya. Selain suhunya tinggi (>200?C), ukuran materialnya pun besar dengan diameter > 10 cm sehingga mampu membakar sekaligus melukai, bahkan mematikan mahluk hidup. Lazim juga disebut sebagai "bom vulkanik".
  2. Hujan Abu lebat, terjadi ketika letusan gunung api sedang berlangsung. Material yang berukuran halus (abu dan pasir halus) yang diterbangkan angin dan jatuh sebagai hujan abu dan arahnya tergantung dari arah angin. Karena ukurannya yang halus, material ini akan sangat berbahaya bagi pernafasan, mata, pencemaran air tanah, pengrusakan tumbuh-tumbuhan dan mengandung unsur-unsur kimia yang bersifat asam sehingga mampu mengakibatkan korosi terhadap seng dan mesin pesawat.
  3. Lava, merupakan magma yang mencapai permukaan, sifatnya liquid (cairan kental dan bersuhu tinggi, antara 700 - 1200?C. Karena cair, maka lava umumnya mengalir mengikuti lereng dan membakar apa saja yang dilaluinya. Bila lava sudah dingin, maka wujudnya menjadi batu (batuan beku) dan daerah yang dilaluinya akan menjadi ladang batu.
  4. Gas Racun, muncul tidak selalu didahului oleh letusan gunung api sebab gas ini dapat keluar melalui rongga-rongga ataupun rekahan-rekahan yang terdapat di daerah gunung api. Gas utama yang biasanya muncul adalah CO2, H2S, HCl, SO2, dan CO. Yang kerap menyebabkan kematian adalah gas CO2. Beberapa gunung yang memiliki karakteristik letusan gas beracun adalah Gunung Api Tangkuban Perahu, Gunung Api Dieng, Gunung Ciremai, dan Gunung Api Papandayan.
  5. Tsunami, umumnya dapat terjadi pada gunung api pulau, dimana saat letusan terjadi material-material akan memberikan energi yang besar untuk mendorong air laut ke arah pantai sehingga terjadi gelombang tsunami. Makin besar volume material letusan makin besar gelombang yang terangkat ke darat. Sebagai contoh kasus adalah letusan Gunung Krakatau tahun 1883.
·         Bahaya Ikutan (Sekunder) 
Bahaya ikutan letusan gunung api adalah bahaya yang terjadi setelah proses peletusan berlangsung. Bila suatu gunung api meletus akan terjadi penumpukan material dalam berbagai ukuran di puncak dan lereng bagian atas. Pada saat musim hujan tiba, sebagian material tersebut akan terbawa oleh air hujan dan tercipta adonan lumpur turun ke lembah sebagai banjir bebatuan, banjir tersebut disebut lahar.














BAB II
KEBIJAKAN
1.      Penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana lebih difokuskan kepada upaya sebelum terjadi bencana.
2.      Penyebarluasan informasi mengenai penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana gunung api pada masyarakat perlu dilakukan dengan memantapkan sistem informasi dan jejaring komunikasi.
3.      Peta jalur evakuasi bidang kesehatan pada bencana gunung api menjadi panduan untuk mengarahkan penduduk rentan ke sarana kesehatan terdekat yang aman dan merupakan kegiatan lintas program serta lintas sektor.
4.      Pemerintah Daerah berperan dalam menentukan kebijakan untuk penyusunan peta jalur evakuasi khususnya bidang kesehatan.
5.      Pengaturan jalur lintas evakuasi ditentukan untuk menciptakan keteraturan dalam pelaksanaan evakuasi bidang kesehatan.
6.      Peningkatan kapasitas sumber daya kesehatan dan masyarakat.
7.      Monitoring dan evaluasi







BAB III
PENANGANAN MASALAH

Penanganan bencana letusan gunung berapi dibagi menjadi tiga bagian, yaitu persiapan sebelum terjadi letusan, saat terjadi letusan dan setelah terjadi letusan.
a. Penanganan sebelum terjadi letusan
  1. Pemantauan dan pengamatan kegiatan pada semua gunung berapi yang aktif
  2. Pembuatan dan penyediaan Peta Kawasan Rawan Bencana dan Peta Zona Resiko Bahaya Gunung Berapi yang didukung dengan Peta Geologi gunung berapi
  3. Melaksanakan prosedur tetap penanggulangan bencana letusan gunung berapi
  4. Melakukan pembimbingan dan pemberian informasi gunung berapi
  5. Melakukan penyelidikan dan penelitian geologi, geofisika dan geokimia di gunung berapi
  6. Melakukan peningkatan sumberdaya manusia (SDM) dan pendukungnya seperti peningkatan sarana san prasarana
b. Penanganan saat terjadi letusan
  1. Memebentuk tim gerak cepat
  2. Meningkatkan pemantauan dan pengamatan dengan didukung oleh penambahan peralatan yang memadai
  3. Meningkatkan pelaporan tingkat kegiatan alur dan frekuensi pelaporan sesuai dengan kebutuhan
  4. Memberikan rekomendasi kepada pemerintah setempat sesuai prosedur

c. Penanganan setelah terjadi letusan

  1. Menginventarisir data, mencakup sebaran dan volume hasil letusan
  2. Mengidentifikasi daerah yang terancam bencana
  3. Mmemberikan saran penanggulangan bencana
  4. Memberikan penataan kawasan jangka pendek dan jangka panjang
  5. Memperbaiki fasilitas pemantauan yang rusak
  6. Menurunkan status kegiatan, bila keadaan sudah menurun
  7. Melanjutkan pemantauan secara berkesinambungan.
Langkah kongkrit dalam kesiapsiagaan terhadap letusan Gunung antara lain adalah :
  1. Mengenali tanda-tanda bencana, karakter gunung dan ancaman-ancamannya
  2. Membuat peta ancaman, mengenali daerah ancaman, daerah aman
  3. Membuat sistem peringatan dini
  4. Mengembangkan Radio komunitas untuk penyebarluasan informasi status gunung api
  5. Mencermati dan memahami Peta Kawasan Rawan gunung api yang diterbitkan oleh instansi berwenang
  6. Membuat perencanaan penanganan bencana Mempersiapkan jalur dan tempat pengungsian yang sudah siap dengan bahan kebutuhan dasar (air, jamban, makanan, pertolongan pertama) jika diperlukan
  7. Mempersiapkan kebutuhan dasar dan dokumen penting
  8. Memantau informasi yang diberikan oleh Pos Pengamatan gunung api (dikoordinasi oleh Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi). Pos pengamatan gunung api biasanya mengkomunikasikan perkembangan status gunung api lewat radio komunikasi


Tindakan yang dilakukan ketika telah terjadi letusan adalah :
  1. Hindari daerah rawan bencana seperti lereng gunung, lembah, aliran sungai kering dan daerah aliran lahar Hindari tempat terbuka, lindungi diri dari abu letusan
  2. Masuk ruang lindung darurat bila terjadi awan panas
  3. Siapkan diri untuk kemungkinan bencana susulan Kenakan pakaian yang bisa melindungi tubuh, seperti baju lengan panjang, celana panjang, topi dan lainnya
  4. Melindungi mata dari debu, bila ada gunakan pelindung mata seperti kacamata renang atau apapun yang bisa mencegah masuknya debu ke dalam mata Jangan memakai lensa kontak
  5. Pakai masker atau kain untuk menutupi mulut dan hidung
  6. Saat turunnya abu gunung usahakan untuk menutup wajah dengan kedua belah tangan
Setelah terjadi letusan maka yang harus dilakukan adalah :
  1. Jauhi wilayah yang terkena hujan abu
  2. Bersihkan atap dari timbunan abu karena beratnya bisa merusak atau meruntuhkan atap bangunan
  3. Hindari mengendarai mobil di daerah yang terkena hujan abu sebab bisa merusak mesin motor, rem, persneling dan pengapian




BAB IV
PENGORGANISASIAN
A.           Peran dan Fungsi Instansi Pemerintahan Terkait Dalam melaksanakan penanggulangan becana di daerah akan memerlukan koordinasi dengan sektor. Secara garis besar dapat diuraikan peran lintas sektor sebagai berikut :
1.           Sektor Pemerintahan, mengendalikan kegiatan pembinaan pembangunan daerah.
2.           Sektor Kesehatan, merencanakan pelayanan kesehatan dan medik termasuk obat-obatan dan para medis.
3.           Sektor Sosial, merencanakan kebutuhan pangan, sandang, dan kebutuhan dasar lainnya untuk para pengungsi
4.           Sektor Pekerjaan Umum, merencanakan tata ruang daerah, penyiapan lokasi dan jalur evakuasi, dan kebutuhan pemulihan sarana dan prasarana.
5.           Sektor Perhubungan, melakukan deteksi dini dan informasi cuaca/meteorologi dan merencanakan kebutuhan transportasi dan komunikasi
6.           Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral, merencanakan dan mengendalikan upaya mitigatif di bidang bencana geologi dan bencana akibat ulah manusia yang terkait dengan bencana geologi sebelumnya.
7.           Sektor Tenaga Kerja dan Transmigrasi, merencanakan pengerahan dan pemindahan korban bencana ke daerah yang aman bencana.
8.           Sektor Keuangan, penyiapan anggaran biaya kegiatan penyelenggaraan penanggulangan bencana pada masa pra bencana
9.           Sektor Kehutanan, merencanakan dan mengendalikan upaya mitigatif khususnya kebakaran hutan/lahan.
10.       Sektor Lingkungan Hidup, merencanakan dan mengendalikan upaya yang bersifat preventif, advokasi, dan deteksi dini dalam pencegahan bencana.
11.       Sektor Kelautan merencanakan dan mengendalikan upaya mitigatif di bidang bencana tsunami dan abrasi pantai.
12.       Sektor Lembaga Penelitian dan Peendidikan Tinggi, melakukan kajian dan penelitian sebagai bahan untuk merencanakan penyelenggaraan penanggulangan bencana pada masa pra bencana, tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi.
13.       TNI/POLRI membantu dalam kegiatan SAR, dan pengamanan saat darurat termasuk mengamankan lokasi yang ditinggalkan karena penghuninya mengungsi.

B.       Peran dan Potensi Masyarakat
1.      Masyarakat
Masyarakat sebagai pelaku awal penanggulangan bencana sekaligus korban bencana harus mampu dalam batasan tertentu menangani bencana sehingga diharapkan bencana tidak berkembang ke skala yang lebih besar.
2.      Swasta
Peran swasta belum secara optimal diberdayakan. Peran swasta cukup menonjol pada saat kejadian bencana yaitu saat pemberian bantuan darurat. Partisipasi yang lebih luas dari sektor swasta ini akan sangat berguna bagi peningkatan ketahanan nasional dalam menghadapi bencana.
3.      Lembaga Non-Pemerintah
Lembaga-lembaga Non Pemerintah pada dasarnya memiliki fleksibilitas dan kemampuan yang memadai dalam upaya penanggulangan bencana. Dengan koordinasi yang baik lembaga Non Pemerintah ini akan dapat memberikan kontribusi dalam upaya penanggulangan bencana mulai dari tahap sebelum, pada saat dan pasca bencana.
4.      Perguruan Tinggi / Lembaga Penelitian
Penanggulangan bencana dapat efektif dan efisien jika dilakukan berdasarkan penerapan ilmupengetahuan dan teknologi yang tepat. Untuk itu diperlukan kontribusi pemikiran dari para ahli dari lembaga-lembaga pendidikan dan penelitian.
5.      Media
Media memiliki kemampuan besar untuk membentuk opini publik. Untuk itu peran media sangat penting dalam hal membangun ketahanan masyarakat menghadapi bencana melalui kecepatan dan ketepatan dalam memberikan informasi kebencanaan berupa peringatan dini, kejadian bencana serta upaya penanggulangannya, serta pendidikan kebencanaan kepada masyarakat.
6.      Lembaga Internasional
Pada dasarnya Pemerintah dapat menerima bantuan dari lembaga internasional, baik pada saat pra bencana, saat tanggap darurta maupun pasca bencana. Namun demikian harus mengikuti peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

BAB V
STANDAR MINIMAL
Standar Pelayanan Minimal (SPM) dianggap sebagai tindakan yang logis bagi Pemerintah Daerah karena beberapa alasan. Pertama, didasarkan kemampuan daerahnya masing-masing, maka sulit bagi Pemerintah Daerah untuk melaksanakan semua kewenangan/fungsi yang ada. Kedua, dengan munculnya SPM memungkinkan bagi Pemerintah Daerah untuk melakukan kegiatannya secara “lebih terukur”. Ketiga, dengan SPM yang disertai tolok ukur pencapaian kinerja yang logis dan riil akan memudahkan bagi masyarakat untuk memantau kinerja aparatnya, sebagai salah satu unsur terciptanya penyelenggaraan pemerintahan yang baik.
Standar Pelayanan Minimal (SPM) adalah sebuah kebijakan publik yang mengatur mengenai jenis dan mutu pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib daerah yang berhak diperoleh setiap warga secara minimal. Kebijakan ini kemudian diperjelas melalui Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom. Disamping itu, PP ini kemudian ditindaklanjuti pula dengan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 100/757/OTDA/2002 tanggal 8 Juli 2002 mengenai Pelaksanaan Kewenangan Wajib dan Standar Pelayanan Minimal (SPM). Sebagai tindak lanjut pelaksanaan SPM ini adalah diterbitkanya PP No.65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan Standar Pelayanan Minimal dan PP No.6 Tahun 2007 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan dan Penetapan Standar Pelayanan Minimal. SPM menyangkut dua konsep utama, yaitu tolak ukur penyedia layanan bagi penyedia layanan dan acuan mengenai kuantitas dan kualitas layanan bagi pengguna layanan. Adapun program pengurangan resiko bencana pemerintah provinsi Sumatera barat tergampar pada rencana penanggulangan bencana sebagai berikut :



Fokus, Program dan Kegiatan Penanggulangan Bencana Letusan Gunung Api
FOKUS PROGRAM KEGIATAN
A.  Perlindungan Masyarakat dari Bencana Letusan Gunung Api
Fokus :
1.    Pencegahan dan Mitigasi Bencana Letusan Gunung Api
2.    Kesiapsiagaan Bencana Letusan Gunung Api

Program :
1.    Pencegahan dan mitigasi non struktural
2.    Pencegahan dan mitigasi struktural
3.   Pembangunan Sistem Peringatan Dini Bencana di Zona Prioritas Penanggulangan Bencana Provinsi
4.   Peningkatan kapasitas evakuasi masyarakat
5.   Penyelenggaraan latihan kesiapsiagaan di kawasan rawan bencana Letusan Gunung Api

Kegiatan :
1.   Pengawasan atas pelaksanaan tata guna lahan daerah konservasi
2.   Alokasi dan pemindahan masyarakat dari kawasan rawan bencana Letusan Gunung Api
3.   Pembangunan Sistem Peringatan Dini
4.   Penyusunan dan Penetapan Rencana Evakuasi di Zona Prioritas Penanggulangan Bencana
5.   Pembangunan dan Pemeliharaan prasarana dan sarana kesiapsiagaan bencana
6.   Peningkatan kapasitas sarana prasarana evakuasi masyarakat di Zona Prioritas Penanggulangan Bencana Provinsi




B.  Penanganan Bencana Letusan Gunung Api

Fokus :
1.    Tanggap Darurat Bencana Letusan Gunung Api
2.    Pemulihan Bencana Letusan Gunung Api

Program :
1.    Penyelenggaraan Operasi Darurat Bencana
2.    Penyelenggaraan Rehabilitasi dan Rekonstruksi

Kegiatan :
1.      Kajian Cepat Bencana
2.      Pencarian, penyelamatan & evakuasi
3.      Pemenuhan kebutuhan dasar pangan, sandang, hunian sementara, layanan kesehatan, air bersih dan sanitasi
4.      Pemulihan darurat fungsi prasarana dan sarana kritis
5.      Pengkajian kerusakan dan kerugian
6.      Penyusunan rencana aksi rehabilitasi rekonstruksi
7.      Pemulihan prasarana sarana publik dan rekonstruksi rumah warga korban bencana
8.      Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis

Ada beberapa hal yang diperhatikan dan didalami dalam proses asesmen ini yaitu mengenai respon dan penanganan dari pemerintah daerah, dan situasi di beberapa titik pengungsian yang merepresentasikan keadaan pengungsian secara keseluruhan.

1.         Respon dan penanganan dari pemerintah daerah.
Lima hari pasca meletusnya gunung Krakatau membuat masyarakat yang tinggal diwilayah lereng kaki gunung harus mengungsi. Respon dari berbagai kalangan dalam memberikan bantuan juga mengalir. Disinilah pusat informasi mengenai kondisi dan situasi setelah letusan gunung Krakatau tersebut. Ketika tim datang ke sana, terlihat pemerintah daerah sedang melakukan rapat yang setelah diketahui rapat tersebut membahas tentang koordinasi dan pembagian tugas. 
Inilah mengapa kemudian setelah dilihat langsung ke titik pengungsian yang terjauh belum mendapatkan bantuan, karena ternyata ditingkat pemerintah sendiri baru akan menyusun pembagian tugas dan koordinasi. Sulitnya lagi sampai dilakukannya asesmen ini belum juga ada data terpilah berkaitan dengan data anak, lansia, perempuan.
Seyogyanya pada tingkatan Kabupaten sudah memiliki Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) atau paling tidak Satlak. Beberapa tim dari BNPB langsung terjun ke lapangan untuk membantu melakukan penanganan langsung terhadap situasi darurat meletusnya gunung krakatau.

2.         Situasi pengungsian.
Mengenai situasi pengungsian di 3 titik tersebut merepresentasikan suatu keadaan yang belum normal dirasa. Beberapa hal spesifik yang diperhatikan tentang ketidaknormalan antara lain:

·      Kesehatan.
Dari 3 titik pengungsian yang telah diasesmen memerlihatkan bahwa ada beberapa penyakit yang dominan diderita oleh para pengungsi. Diantaranya adalah demam, diare, masuk angin, batuk dan sesak nafas. Berdasarkan informasi yang didapat dari beberapa orang yang mengungsi mengatakan bahwa penanganan kesehatan hanya mengandalkan obat-obatan yang ada dan bidan desa. Karena dua wilayah pengungsian yang didatangi jaraknya cukup jauh dari pusat kota.


·      Pemenuhan kebutuhan kelompok rentan (balita dan ibu hamil).
Keberadaan masyarakat di pengungsian membuat mereka tidak memiliki bahan pokok yang cukup untuk memenuhi kebutuhan mengungsi. Khususnya bagi kelompok rentan yaitu balita dan ibu hamil. Pentingnya asupan makanan yang bergizi tinggi sangatlah dibutuhkan oleh balita dan ibu hamil. Namun dari pemantauan di tiga titik pengungsian tersebut terlihat masih kurangnya stock logisitik yang dimiliki seperti susu, bubur bayi, susu ibu hamil. Adapun bantuan yang datang tetapi jumlahnya tidak sebanding dan lebih banyak bantuan berupa mie instan, air mineral, selimut dan makanan ringan. Jika ini terus terjadi maka akan berakibat fatal bagi kelompok-kelompok rentan tersebut.

·      Air bersih dan Sanitasi
Masyarakat Karo memanfaatkan Jambur (tempat berkumpul untuk acara-acara adat) sebagai tempat pengungsian mereka. Pada umumnya di jambur telah disiapkan kamar mandi umum, sehingga saat ini bisa digunakan masyarakat untuk MCK (Mandi Cuci Kakus). Masalah air juga tidak menjadi kendala seperti yang terlihat, karena jambur sudah dilengkapi dengan sumber air yang cukup. Selama mengungsi kebutuhan MCK bisa menggunakan kamar mandi warga yang telah tersedia. Akan tetapi bila pengungsi akan semakin banyak karena belum jelasnya status dari Gunung Krakatau tersebut maka kebutuhan untuk penyediaan sanitasi akan sangat dibutuhkan.

·      Logistik
Lambatnya penanganan pemerintah daerah dalam menyalurkan bantuan yang didapatkan membuat para pengungsi sulit untuk mendapatkan kebutuhan makanan dan kesehatan. Khususnya titik-titik pengungsian yang jaraknya jauh dari pusat pemerintahan. Juga lambatnya informasi tentang status gunung Krakatau membuat masyarakat sulit untuk menetukan tindakan. Untuk kembali ke desa mereka juga cukup jauh jaraknya dari tempat mereka mengungsi sekarang. Karena ketika mereka mengungsi tidak sempat membawa apapun, “hanya baju dibadan yang dibawa” kata salah seorang pengungsi. Saat ini ketersediaan logistic yang ada di tiga titik pengungsian tersebut hanya bisa bertahan untuk beberapa hari, karena jumlahnya tidak sebanding antara jumlah pengungsi dengan ketersediaan logistic yang ada.
BAB VI
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Krakatau adalah kepulauan vulkanik yang masih aktif dan berada di Selat Sunda antara pulau Jawa dan Sumatra. Nama ini pernah disematkan pada satu puncak gunung berapi di sana (Gunung Krakatau) yang sirna karena letusannya sendiri pada tanggal 26-27 Agustus 1883. Letusan itu sangat dahsyat; awan panas dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa.

B.     Saran
Bencana kita tidak tahu kapan datangnya, untuk itu agar kiranya harus tetap siapsiaga akan  bencana yang terjadi. Dan menjaga dan melestarikan hasil bumi agar tidak terjadi erupsi pada gunung.








DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan RI.2007. Pedoman Teknis Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana - Panduan bagi Petugas Kesehatan yang Bekerja dalam Penanganan Krisis Kesehatan Akibat Bencana di Indonesia. Jakarta.

http://www.google.com (sumber: Film Dokumentasi Krakatoa The Last Day (produksi BBC)).

(Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi).

contact@bnpb.go.id BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA


Designed By Published.. Blogger Templates